Kamis, 31 Mei 2018

PERPADUAN WARNA-WARNI RAMADHAN DAN DESA KECIL YANG SEDERHANA “PesonaRamadan2018”

sumber : flickr

Setiap bulan Ramadhan aku biasanya jarang kemana-mana. Tiap tahun, yang aku lalui hanya berkumpul bersama keluarga, makan masakan ibu, pergi taraweh, tadarus dan bermain bersama teman-teman rumahku ketika aku masih kecil. Tempat tinggalku adalah desa yang sederhana di sebuah kabuaten kecil Bondowoso. Kalau kau bertanya pada orang-orang yang ada di kota-kota besar mungkin tak banyak yang tau daerah kami, tapi jika kau mencari di peta jawa timur kau akan menemukannya. Kabupaten Bondowoso terhimpit oleh kabupaten dan kota yang lebih maju dan lebih populer, yaitu kota Jember dan kabupaten Situbondo. Namun tetap saja daerah ini punya cerita Ramadhan yang tidak kalah seru dibandingkan kota-kota lainnya.
Di daerah kami tidak banyak festival makanan seerti yang ada di kota-kota besar, hanya ada satu yaitu di alun-alun kota yang jaraknya cukup jauh dari desaku. Jadi setiap rumah tangga memilih untuk membuat sendiri menu buka puasa dan sahur mereka. Terkadang ada tetangga yang menjual es ketika bulan ramadhan datang, tetapi semakin lama kian berkurang sebab hampir tiap-tiap rumah memiliki kulkas jadi mereka bisa membuatnya sendiri. 

sumber : selipan.com

Hal yang aku ingat ketika aku masih kecil, ramadhanku dipenuhi dengan kembang api. Dulu, saat peraturan mengenai petasan dan kembang api tidak terlalu ketat, malam-malam kami begitu meriah oleh bunyi petasan dan letupan warna-warni dari kembang api. Karna aku masih kecil, betapa menyenangkannya itu bagiku ketika warna-warna terang berbinar seperti cahaya yang keluar dari tongkat sihir. Sekarang karna aku sudah dewasa hal itu sudah biasa. Tapi terkadang kami melihat beberapa tetangga meletuskan kembang api yang terbang ke atas dan cahayanya terurai di langit membentuk beragam warna. Itu juga menyenangkan sebab makin lama makin jarang anak-anak yang bermain kembang api dan lebih memilih sibuk dengan gadgetnya, sehingga suasana ramadhan semakin tahun terasa kurang meriah.
Dari sisi religi tidak ada yang terlalu spesial. Di setiap desa pasti ada yang disebut ustad atau orang yang sangat mengenal agama. Begitupun di daerah kami. Pemilik madrasah/ustadz, orang tua yang telah menjalankan ibadah haji dan guru agama islam  adalah orang-orang yang memimpin shalat tarawih, shalat ied dan memberikan ceramah agama di daerah kami. Masjid desa kami terletak di dataran yang tinggi dengan kokohnya. Hal itu membuatnya begitu tampak begitu unggul dibandingkan rumah-rumah penduduk. Sehingga tidak membutuhkan menara atau tiang yang tinggi agar suara dari masjid dapat terdengar ke seluruh desa. Ketika bulan ramadhan ustad-ustad kami jarang memberikan ceramah, para pengurus masjid biasanya memutarkan ceramah dari radio atau kaset ketika menjelang maghrib. Tapi ketika subuh, siang, sore dan malam kami tetap mendengar anak-anak tadarus Al-Qur’an. Daerah kami terdapat banyak madrasah temat belajar mengaji. Sehingga seringkali ada tumang tidih antara suara mengaji di yayasan yang satu degan yang lainnya.
Karna kalender hijriah memiliki jumlah hari yang lebih sedikit dibanding kalender masehi, Ramadhan selalu datang lebih awal dari tahun sebelumnya dan suasananya mengikuti musim tumbuh-tumbuhan di daerah kami. Hal yang lebih menyenangkan lagi kalau Ramadhan datang disaat musim panen. Sayangnya bulan Ramadhan tahun ini tidak bersamaan dengan musim buah-buahan apalagi musim panen. Justru pada pertengahan tahun ini berbarengan dengan musim tanam tembakau.
Petani adalah mata pencaharian utama di darah kami dengan mayoritas penduduknya yang islam. Otomatis ketika dua moment ini bertemu akan menjadi moment Ramadhan yang paling meriah dibanding tahun-tahun lainnya. Anak-anak akan punya uang untuk membeli snack-snack yang mereka mau di toko. Para orang tua akan memasakkan makanan yang enak, terutama para ibu akan membuat es yang macam-macam setiap harinya untuk buka puasa, mulai dari es teh, es belewa, es dawet, es Manado hingga es campur, bahkan mungkin ada kurma dan buah semangka juga. Karna musim panen, penduduk akan punya uang terutama ketika menjelang lebaran. Orang tua mungkin nggak cuma membelikan baju untuk anak, tapi juga untuk diri mereka sendiri.
Lebaran di daerah kami hampir sama halnya seperti parade memamerkan busana baru terutama bagi anak-anak. Meskipun itu sebenarnya tidak perlu, tapi tradisi seperti itu sudah mendarah daging. Sebab ketika selesai shalat ied di masjid, orang orang akan segera meletakkan alat shalat mereka lalu berjalan ke rumah-rumah untuk bersalam-salaman. Jarang ada yang duduk lama di satu rumah sambil bertamu dan makan-makanan yang disediakan. Kami semua harus menyelesaikan salam-salaman kepada seluruh tetangga dan seluruh orang yang dikenal. Sebab orang-orang di daerah kami saling mengenal baik atau minimal tau satu sama lain bahkan bagi yang rumahnya cukup berjauhan. Baru setelah itu mampir di rumah keluarga tertentu untuk bertemu dan masak-masakan mereka. 
sumber : delinarahayu.wodpress.com
Tahun ini aku menghabiskan beberapa hari berpuasa di Surabaya sampai akhirnya sekarang aku pulang ke rumah. Dalam beberapa hal terdapat perbedaan suasana puasa di Kota besar dengan desa tempat tinggalku. Karna aku tinggal di dekat kampus suasananya sangat ramai oleh orang yang berjualan, banyak sekali. Aku tidak perlu khawatir kekurangan makanan, selain itu ada takjil dari masjid juga. Tapi meskipun begitu ramai, semua orang masih sangat individualis. Mungkin karna aku juga kurang mengenal warga setempat. Sementara di desaku suasananya memang tidak begitu ramai, tapi kekeluargaannya terasa sangat kental. Terkadang kami berbagi menu buka puasa maupun menu sahur kami dengan tetangga yang lain. Atau mengajak tetangga untuk buka puasa di rumah ketika ada menu buka puasa yang spesial. 
Bulan Ramadhan setia tahunnya selalu memiliki pesonanya masing-masing. Untuk pesona Ramadhan 2018 tidak jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya, melewati beberaa hari di kota rantauan lalu menghabiskan sisa Ramadhan di kampung halaman. Orang-orang yang ditemui tidak banyak berubah, kulinernya pun sama saja. Sekarang lagi ngetren menu buka puasa yang namanya es kepal milo, tapi akupun belum tau rasanya seperti apa. Dari semua hal yang ada di bulan Ramadhan, bagian yang paling penting adalah maknanya. Bagaimana kita memanage diri kita sendiri dalam melewati bulan suci yang indah ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...