Jumat, 06 November 2015

NYAI ANTEH SANG PENUNGGU BULAN

Alkisah dahulu kala di daerah Jawa Barat berdiri sebuah kerajaan bernama kerajaan Pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang subur dan makmur serta memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai dibawah pimpinan raja dan ratu yang bijaksana. Raja selalu memperhatikan rakyatnya, begitupun rakyat yang sangat menyayangi raja mereka. Kehidupan di istana sangat baik dengan di dalamnya terdapat dua gadis remaja yang sama-sama jelita. Keduanya selalu terlihat rukun meski terlahir dari status sosial yang berbeda. Gadis-gadis tersebut bernama Endahwarni dan Nyai Anteh. Endahwarni adalah putri dari raja dan ratu serta satu-satunya pewaris kerajaan Pakuan, sementara Nyai Anteh merupakan anak Nyai Dadap, dayang kesayangan ratu yang meninggal semenjak Nyai Anteh dilahirkan.
Sejak saat itu ratulah yang merawat dan membesarkan Nyai Anteh bersamaan dengan Putri Endahwani. Sedari kecil keduanya tumbuh bersama dan ketika beranjak remaja Nyai Anteh dijadikan sebagai dayang pribadi putri. Meski hanya seorang dayang, putri Endahwani sangat menyayangi Nyai Anteh seperti adiknya sendiri. Demikian juga Anteh yang menghormati putri serta menyayanginya layaknya saudara kandung.
            “Anteh, kenapa kau terus-menerus memanggilku Gusti Putri ketika sedang berdua denganku? Bukankah sudah berkali-kali aku katakan padamu untuk memanggilku dengan namaku saja,” ujar Putri Endahwarni.
Anteh tersenyum kecil,”Terima kasih untuk kemurahan hati gusti putri, tetapi mana mungkin saya berani memanggil putri mahkota hanya dengan namanya saja. Bagaimapun saya hanya seorang dayang,”
“Anteh,”sahut putri lembut sembari meletakkan tangannya di pundak Anteh, “Bagiku kau tetap adik tercintaku. Tidak peduli satatusmu yang hanya seorang dayang. Ingat, sejak bayi kita dibesarkan bersama, maka sampai kapanpun kita akan tetap bersaudara. Awas ya! Kalau kau lupa lagi, lihat saja nanti akan kuhukum,” lanjutnya setengah bercanda.
Anteh hanya tersenyum dan mengangguk,”Baiklah kakak,” ucapnya kemudian.
Begitulah kerukunan yang terjalin antara Nyai Anteh dan Putri Endahwarni. Keduanya mulai beranjak dewasa dan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Namun Putri Endahwarni menyadari kecantikan Nyai Anteh jauh diatasnya. Bagaimana tidak, pakaian Nyai Anteh selalu terlihat sederhana. Dia jarang memoleskan bedak yang tebal di wajahnya akan tetapi seluruh penghuni istana justru memuji kecantikan Nyai Anteh melebihi putri mahkota kerajaan Pakuan. Tetapi hal tersebut tak justru membuat Putri Endahwani Iri dan membenci Nyai Anteh, rasa sayangnya pada Anteh membuatnya tetap rendah hati, bahkan ia sendiri ikut memuji dayang pribadinya itu.
“Kau cantik sekali Anteh, lebih cantik daripada aku. Rasanya aku akan iri jika seandainya kamu menjadi seorang putri, pasti sudah banyak pangeran yang meminangmu,” ujar putri suatu hari saat Anteh duduk di dekatnya. Ia tak henti memandangi wajah cantik Nyai Anteh.
“Kak Endah terlalu berlebihan. Mana mungkin wajah seperti ini dibilang cantik. Kak Endah justru lebih cantik. Buktinya pangeran dari seberang yang datang kemarin terpesona ketika melihat kakak. Pasti baginya kakak adalah putri tercantik yang pernah ia lihat,” jawab Anteh balik memuji.
“Itu karena gaun yang kamu pilihkan untukku Anteh, pakaiannya indah dan nyaman di badanku,akupun merasa sangat cocok ketika menggenakannya. Aku juga bisa melihat pangeran senang melihatku sehingga membuat aku tersipu, tetapi dia tidak tau kalau semua itu berkat bantuanmu. Ngomong-ngomong, baju itu kau buat di penjahit mana? Aku akan membeli baju buatannya lagi lain kali, mungkin aku juga akan membelikan satu untukmu,”
“Baju itu...,” Anteh menggantung ucapannya,”Baju itu..sebenarnya Anteh yang menjahitkannya khusus untuk kak Endah,”
“Benarkah?” seru Putri terkejut,”Wahh Anteh, sepertinya kau juga sangat berbakat dalam menjahit.Aku benar-benar kagum padamu. Jika aku menyadari sejak awal bahwa kau pandai menjahit, aku akan memintamu untuk menjahitkan semua bajuku. Atau mungkin, kau bisa menjahitkan baju pengantinku jika aku menikah nanti,”
“Ampun kakak. Mana mungkin saya berani menjahitkan baju untuk pernikahan kak Endah. Acara pernikahan putri mahkota adalah suatu yang sakral dan sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Pakuan. Saya takut akan mengecewakan mereka jika hasil jahitannya jelek,” Anteh menolak halus.
“Kamu hanya terlalu merendah Anteh, kau harus percaya diri dengan kemampuan yang kau miliki. Aku yakin hasil jahitanmu tidak akan mengecewakan. Buktinya baju pesta kemarin, kau mejahitnya dengan indah, begitupun dengan baju pernikahanku nanti, kau pasti akan menjahitkannya dengan sangat bagus. Percayalah Anteh,” putri Endah berusaha menyemangati.
Pembicaraan tentang pernikahan itu rupanya tak hanya ada di antara Nyai Anteh dan putri Endahwarni. Rakyat kerajaan Pakuan rupanya telah lama menunggu-nunggu mengenai berita pernikahan putri mahkota karna calon ratu mereka telah cukup dewasa. Hal tersebut membuat raja dan ratu gelisah karna hingga detik ini belum pernah ada tanda-tanda yang mendekati pernikahan sang Putri. Tadinya mereka berpikir kedatangan seorang pangeran kemarin akan berujung pernikahan. Sebab dari tatapan mata pangeran tampaknya ia menyukai putri Endahwarni. Tapi apa dikata karna pengeran tak kunjung melamar, terpaksa mereka yang menentukan dengan siapa putri akan menikah, dan tentu bukan orang yang sembarangan. Orang yang menikah dengan putri juga akan ikut memimpin kerajaan ini, untuk itu raja dan ratu benar-benar menyeleksi pengeran mana yang kelak dinikahkan dengan putrinya. Hingga suatu malam ratu memanggil putri Endahwarni dan Nyai Anteh ke kamarnya.
“Endah putriku, ada sesuatu hal penting yang ingin ibu bicarakan,” kata ratu.
“Ya ibu. Endah akan mendengarkannya dengan baik,” Jawab Putri
“Endah, kau adalah anakku satu-satunya. Kelak kau akan menjadi ratu menggantikan ayahmu memimpin rakyat Pakuan,” ujar ratu. “Tentu kau tau bahwa dalam ketentuan keraton kau harus memiliki pendamping hidup sebelum bisa diangkat menjadi ratu.”
“Maksud ibu, Endah harus segera menikah?” Putri Endah yang mendengar pernyataan ibunya lantas bertanya-tanya. Tak pernah sebelumnya Ratu tampak begitu gelisah terlebih berbicara mengenai pernikahan.
“Benar Endah, maafkan ibu karna baru membicarakan hal tersebut padamu sekarang. Karna kau sudah cukup dewasa dan waktu penobatan pengangkatanmu sebagai ratu juga semakin dekat, rakyat mulai bertanya-tanya kapan kau akan menikah. Ayah dan ibumu pun juga memahami kondisi ini, kami harap kau pun demikian,” ratu menghentikan pembicaraannya sejenak untuk membelai rambut putrinya dengan lembut, putri satu-satunya yang sangat ia sayangi.
“Untuk itu kami tanpa sepengetahuanmu berunding mengenai calon pendamping yang cocok untukmu, dan kami sepakat bahwa pangeran Anantakusuma lah yang pantas mendapatkan penghormatan ini. Dia anak adipati dari kadipaten Wetan. Kami pernah bertemu dengannya beberapa kali, dia benar-benar pemuda yang baik, terlebih lagi dia gagah dan tampan. Kau pasti akan menyukainya, kalian sangat serasi bersama dan hidup bahagia sebagai pemimpin kerajaan Pakuan,”
“Ibu, apakah ibu yakin dengan hal itu?”
Ratu mengangguk,”Kami telah berusaha sebaik mungkin menyeleksi calon pendampingmu, kami yakin pilihan kami tidak akan salah,” tuturnya penuh kepastian.
“Baiklah ibu, jika memang itu yang terbaik untuk Endah dan kerajaan Pakuan ini, Endah akan menikah dengan pangeran Anantakusuma. Semoga kami bisa memenuhi apa yang menjadi harapan ibu dan ayah serta harapan rakyat Pakuan,” Sahut Endah tak kalah mantap.
Ratu tersenyum begitupun dengan putri Endahwarni, kegelisahan yang sempat membara perlahan mulai mereda begitu putri menyampaikan persetujuannya. Mereka lantas berpelukan sejenak,”Do’a ibu selalu menyertaimu Endah, semoga ini akan menjadi berita yang paling mengembirakan untuk rakyat Pakuan, terlebih lagi untukmu anakku,” ujar Ratu begitu pelukan keduanya terurai. Ratu mengalihkan pandangannya panda Anteh yang sejak tadi hanya menunduk mendengar percakapan ini.
“Anteh, aku harap kau tidak keberatan untuk membantu kakakmu menyiapkan segala keperluannya menjelang pernikahan. Kau juga harus menjaganya dengan baik agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan,”
“Mana mungkin saya keberatan gusti ratu, saya akan menjaga kak Endah sebaik mungkin meski nyawa saya taruhannya,”
“Jangan berlebihan Anteh,” potong putri Endahwarni,”Aku percaya padamu,”
“Benar Anteh, saat ini hanya kaulah yang bisa dipercaya untuk selalu berada di samping Putri. Baik-baiklah kalian berdua, jangan pernah bertengkar apalagi menjauhi satu sama lain. Ingat, kalian adalah kakak dan adik karna kalian tumbuh bersama di istana ini,” pesan ratu.
Anteh mengangguk,”Baik gusti ratu,”
“Baik ibunda ratu,”
Keduanya mohon diri ketika malam mulai larut. Karna pembicaraan tadi kegelisahan yang awalnya ada pada ratu kini berganti ke putri Endahwarni. Itu sebabnya malam ini Putri meminta Nyai Anteh untuk menemaninya. Banyak hal yang memenuhi pikiran putri, terutama mengenai pernikahnnya. Ia tidak pernah mengira bahwa waktunya akan datang secepat ini. Dia tidak menyalahkan keinginan rakyat yang menanti prosesi pernikannya. Putri Endahwarni tau bahwa di umurnya yang sekarang seharusnya ia mulai memikirkan calon pendamping. Tapi mengenai orang yang dinikahkan dengannya, ia tidak tau bagaimana menggambarkan persaannya yang kalut.
“Kak Endah, apakah hal yang membuat kakak begitu resah?” Tanya Anteh.
Putri Endahwarni menghentikan aktifitasnya, dia baru sadar bahwa sejak tadi ia hanya mondar-mandir di hadapan Nyai Anteh. Putri lantas terduduk di ranjang tempat tidurnya.
“Sebenarnya aku takut sekali Anteh,” kata putri dengan sedih.
“Apa yang kakak takutkan? Mungkinkah mengenai pernikahan itu?”
Putri mengangguk lemah,”Apakah aku terlalu terburu-buru menyetujui permintaan ibunda untuk menikah dengan pangeran Anantakusuma? Bagaimanapun aku tidak mengenalnya, sama sekali tidak. Lalu bagaimana aku bisa mencintainya dan menikah dengannya? Bagaimana jika dia juga tidak mencintaiku?”
 “Jika itu memang tentang cinta. Bagaimana dengan cinta kakak pada seluruh rakyat Pakuan? Bukankah kakak segera menyetujui permintaan gusti ratu karna rasa cinta kakak pada rakyat?”
“Kau benar Anteh, aku tidak ingin mengecewakan rakyat sehingga aku segera menyetujui pernikahan itu tanpa meminta bertemu dulu dengan pangeran Anantakusuma. Namun entah mengapa aku sendiri tidak yakin terhadap apa yang aku lakukan. Aku takut dia tidak seperti yang aku harapkan, aku takut kami tidak bisa saling mencintai meski akhirnya kami harus menikah,”
“Kak Endah, bukankah kita semua tau bahwa matahari selalu datang dan pergi tanpa dia tau apa yang kita inginkan. Dia berganti sesuai dengan waktunya tanpa peduli bahwa manusia masih membutuhkan sinarnya untuk mengeringkan pakaian, dia sudah terbit saat kita masih membutuhkan waktu untuk tertidur pulas di waktu malam. Selalu seperti itu, namun kehidupan di bumi masih baik-baik saja. Justru dengan pergantian siang dan malam itulah yang membuat kita berusaha memahami apa yang harus dilakukan untuk mengganti kerusakan yang terjadi di setiap hari. Karna kita tau akan ada hari esok. Meskipun tak ada hari esok, kita akan berusaha sebaik mungkin di hari ini. Selalu ada jalan dan solusi untuk kehidupan. Ketika pakaian masih belum kering, kita bisa menyimpannya sementara dan dijemur kembali untuk keesokan harinya. Jika kita kurang tidur, kita akan semakin bekerja keras agar pekerjaan cepat selesai dan kita akan segera istirahat. Begitupun dengan cinta, meski sedikit rumit namun waktu pasti menjawabnya. Terkadang cinta tak datang pada pandangan pertama, tapi pada waktu yang berlalu begitu lama dan kehidupan yang dijalani bersama, cinta bisa perlahan muncul. Mungkin hanya perlu terbiasa agar rasa cinta itu juga tumbuh secara terbiasa. Akan selalu ada hal baik selama kita meyakininya. Tenang dan berdo’alah kak, teruslah berpikiran baik agar semuanya berjalan dengan lancar,” ujar Anteh dengan bijak. Nyai Anteh tak bermaksud bersikap sok tau mengajari putri mahkota, ia hanya berusaha menenangkan hati putri.
Seperti yang diduga, putri tidak marah Nyai Anteh menasehatinya. Ia justru berterima kasih karna Nyai Anteh selalu bisa membuat suasana hatinya membaik di saat-saat seperti ini. Malam itu dilewati keduanya dengan kegelisahan sekaligus harapan, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
*****
            Suatu pagi yang cerah, Nyai Anteh sedang sibuk mengumpulkan bunga melati untuk dijadikan hiasan sanggul putri Endahwarni. Anteh senang menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu saling berebut bunga lalu hinggap dari bunga satu ke bunga lainnya. Sembari bersenandung gembira ia menghirup bau bunga yang semerbak kemudian memetiknya satu persatu. Suara Anteh yang merdu terbang tertiup angin melewati tembok istana. Secara kebetulan saat itu seorang pemuda tampan sedang melintas di balik tembok taman istana Pakuan. Langkahnya seolah terpaku begitu mendengar suara merdu seorang wanita, dia terpesona.
Entah ini takdir, ternyata pemuda tersebut adalah Anantakusuma.  Seorang pangeran yang sangat sakti, gagah dan lincah. Maka dengan mudahnya tembok istana yang begitu tinggi ia lompati hanya dengan sekali percobaan.  Dia lantas berbaur dengan kondisi di taman istana, dengan sigap ia bersembunyi di balik gerumbulan bunga. Saat itu tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik bersenandung pelan di antara bunga-bunga yang indah. Kali ini Anantakusuma merasakan dadanya bergetar, kembali ia terpaku oleh pesona kecantikan yang wanita itu miliki.
“Alangkah cantiknya dia, betapa jantungku berdebar melihat gadis sepertinya. Mungkinkah dia adalah putri Endahwarni? Wanita yang akan menjadi calon isteriku?” batinnya bertanya-tanya. Ia terus penasaran, hatinya ingin membuktikan apakah gadis tersebut benar-benar putri Endahwarni. Tidak ada jalan lain, Anantakusuma akhirnya memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya.
Sementara itu Nyai Anteh mendengar suara gemerisik dedaunan di dekatnya dan terkejut ketika tiba-tiba dirinya menoleh, dihadapannya muncul pemuda yang tidak dikenal.
“Siapa tuan? Mengapa tuan bisa ada disini? Mungkinkah tuan memanjat tembok istana?” ujar Nyai Anteh dengan pertanyaan beruntun.
“Aku Anantakusuma. Apakah kau…..”
Belum sempat Anantakusuma bertanya seseorang memanggil Nyai Anteh. “Anteh!!! Cepat!!! Putri memanggilmu!” kata seorang dayang.
“Ya. Aku segera datang,” Hanya beberapa detik, Anteh mengalihkan perhatiannya kembali pada Anantakusuma.” Maaf tuan saya harus pergi, sebaiknya tuan juga pergi dari sini, istana ini bukan tempat yang bisa tuan datangi seenaknya. Permisi,” kata Anteh terburu-buru yang langsung lari meninggalkan Anantakusuma dengan keterkejutannya.
            “Dia ternyata bukan Endahwarni,” pikir Anantakusuma sedikit putus asa. Ia telah merasakan jantungnya berdetak setelah pertama kali melihatnya, tetapi harapannya seakan langsung hancur begitu menyadari kebenarannya “Dan tanpa sadar aku jatuh cinta padanya, aku ingin dialah yang jadi istriku.” gumamnya.
Beberapa hari kemudian, di istana tampak menjalani kesibukan yang lain daripada biasanya. Hari ini Adipati Wetan akan datang bersama anaknya, Anantakusuma, untuk melamar putri Endahwarni secara resmi. Raja dan Ratu menjamu tamunya dengan sukacita. Putri Endahwarni juga tampak senang melihat calon suaminya yang sangat gagah dan tampan. Ternyata benar apa yang dikatakan Ratu, bahwa mereka telah berusaha sebaik mungkin untuk mencarikannya pendamping. Putri bahagia pangeran Anantakusuma seperti sosok pangeran yang selama ini ia harapkan dalam mimpinya.
 Lain halnya dengan Anantakusuma yang terlihat tidak semangat. Meski saat ini Putri Endahwani tampak manis dengan pakaian yang dikenakan, ekor matanya tetap mencari-cari keberadaan Nyai Anteh. Dia kecewa karena ternyata bukan gadis impiannya itulah yang akan dinikahinya.
Tibalah saat penjamuan. Nyai Anteh dan beberapa dayang istana lainnya masuk ke ruangan dengan membawa nampan-nampan berisi makanan.
“Terima kasih Anteh. Silahkan langsung dicicipi makanan istana istimewa ini,” kata Raja kepada para tamunya.
Anantakusuma tertegun sejenak melihat gadis impiannya kini ada di hadapannya. Kerongkongannya terasa kering dan matanya tak mau lepas dari Nyai Anteh yang saat itu sibuk mengatur hidangan. Seandainya saat ini tidak ada raja dan ratu kerajaan Pakuan serta ayah bundanya, ia pasti akan mengajak Anteh berkenalan lalu mereka akan menghabiskan waktu berbicara banyak hal berdua. Mungkin dia juga mengatakan perasaannya dan meminta Nyai Anteh untuk menjadi istrinya. Anantakusuma benar-benar tidak bisa melepaskan pesona Nyai Anteh dari pikirannya.
Kejadian itu rupanya tidak luput dari perhatian putri Endahwarni. Nyata sekali bahwa sejak Nyai Anteh datang membawa makanan, pangeran tak pernah mengalihkan perhatiannya dari gadis itu, bahkan untuk sekedar melirik putri.
Pahamlah ia bahwa calon suaminya telah menaruh hati pada gadis lain, dan gadis itu adalah seorang yang justru ia anggap seperti adiknya sendiri. Putri Endahwarni merasa cemburu, kecewa dan sakit hati. Bagaimana seorang Putri kerajaan Pakuan bisa kalah oleh dayangnya sendiri. Kala itu timbullah dendam di hatinya pada Nyai Anteh untuk pertama kalinya. Api yang dulu tak pernah menyala di hatinya justru kini berkobar membawa kekecewaan yang tak terelakkan. Dia merasa Nyai Antehlah yang bersalah sehinggga Anantakusuma tidak mencintainya. Andai saja Nyai Anteh tak muncul sekarang, atau bahkan tak pernah menjadi dayangnya, pasti saat ini pangeran Antakusuma sedang menatapnya dengan terpesona. Benar, semua ini gara-gara Nyai Anteh.
Setelah perjamuan selesai putri segera memasuki kamarnya dengan perasaan kesal. Selama penjamuan pangeran seolah menganggapnya orang asing, atau seperti orang yang sama sekali tak menarik perhatiannya meski Nyai Anteh tak ada diantara mereka. Percuma ia berdandan secantik mungkin jika pangeran memperlakukannya seperti ini. Kalau saja putri Endahwarni tak menghargai ayah ibunya demi menjaga nama baik mereka, putri mungkin lebih memilik pergi dan tiduran di kamarnya. Sementara itu Nyai Anteh yang tidak tau apa yang terjadi datang ke kamar Putri seperti biasanya. Dia ingin menggoda atau setidaknya menanyakan perasaan kakak kesayangannya itu setelah bertemu pangeran tampan.
“Wahh ternyata pangeran Antakusuma yang menjadi calon suami kakak itu sangat tampan ya. Bagaimana perasaan kakak saat melihatnya? Bukankah dia pria yang kakak idam-idamkan?” Kata Anteh.
Api di hati Putri Endahwani semakin membara mendengar ucapan Anteh. Berani-beraninya Anteh berkata demikian padanya setelah kejadian tadi yang menghancurkan harga dirinya.
Putri tidak segera menjawab, ia harus menahan emosinya agar tidak melemparkan apa saja yang ada di dekatnya untuk meluapkan Amarah. Ia menghela napas sejenak sebelum berkata,“Anteh, mulai saat ini kau tidak usah melayaniku. Aku juga tidak mau kau ada di dekatku. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi,” tuturnya ketus.
“Apa? Tapi....kenapa kakak mengusir Anteh? Apa yang telah Anteh lakukan hingga membuat kak Endah marah begini?” Tanya Anteh terkejut. Sama sekali ia tidak menyangka Putri akan mengusirnya. Selama ini tak pernah sekalipun mereka bertengkar. Bukankah mereka saling menyayangi layaknya kakak dan adik kandung.
“Aku benci melihat wajahmu Anteh, saat ini saat kau menampakkan diri di hadapanku, ingin rasanya Aku menamparmu berkali-kali,” bentak Putri,”Aku benar-benar kesal sehingga aku tidak mau kau dekat-dekat denganku lagi...tidak! aku bahkan tidak mau kau ada di istana ini. Kau harus angkat kaki dari sini sekarang juga,” ujarnya berapi-api.
“Aku minta maaf jika aku bersalah dan membuat kak Endah kecewa. Aku mungkin tidak bermaksud demikian. Tapi kenapa kak? Setidaknya katakanlah apa kesalahanku?” tangis Anteh.
“Jangan banyak tanya kau Anteh. Sadarkah kau bahwa dirimu sudah mengkhianatiku. Karena engkau Anantakusuma tidak mencintaiku. Dia mencintaimu. Aku tahu. Dan itu karena dia melihat kau yang lebih cantik dariku. Kau harus pergi dari sini Anteh, biar Anantakusuma bisa melupakanmu! Karna dia akan menikah denganku apapun yang terjadi,” ujar putri dengan tegas.
“Tapi...,tapi...,” Anteh menggantung kalimatnya hingga sedetik kemudian ia menghela napas pasrah. Percuma mencoba membela dirinya sendiri, tampaknya keputusan putri untuk mengusirnya sudah bulat,“Baiklah kak Endah, aku akan pergi dari sini. Tapi kak, sungguh Anteh tidak pernah sedikitpun ingin mengkhianati kakak apalagi mencari perhatian pangeran. Tolong sampaikan permohonan maaf dan terima kasih Anteh pada Gusti Raja dan Ratu. Semoga pernikahan kalian berjalan lancar dan bahagia selamanya,”
Nyai Anteh beranjak pergi dari kamar putri Endahwarni dengan sedih. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi hingga Putri menuduhnya berkhianat. Langkahnya gontai menuju kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya. Sebelum pergi dia berpesan kepada dayang lainnya untuk menjaga putri Endahwarni dengan baik. Sesekali Anteh menyeka air matanya yang jatuh tanpa tertahankan. Sejak lahir ia telah hidup di istana, tumbuh dan besar disana bersama putri. Raja dan ratu juga menyayanginya sebagaimana Anteh menyayangi mereka seperti orang tua kandungnya sendiri. Anteh sama sekali tidak mengira bahwa ia harus meninggalkan tempat dimana kenangan masa kecilnya berasal.
Nyai Anteh berjalan keluar dari gerbang istana tanpa tahu apa yang harus dilakukannya di luar sana. Tapi dia memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ibunya. Hanya disanalah tempat yang bisa ia datangi meskipun Anteh belum pernah pergi berkunjung kesana. Tapi waktu itu beberapa dayang senior pernah menceritakan letak kampung halaman Nyai Dadap. Anteh berjalan seorang diri, ia hanya berhenti untuk makan lalu melanjutkan perjalanan. Walaupun kakinya terasa sakit sebab tak memiliki waktu istirahat yang banyak, terlebih lagi ia harus membawa serta barang-barangnya yang lumayan berat.
Ketika hari sudah hampir malam, Nyai Anteh tiba di kampung tempat ibunya dilahirkan. Ia memilih berhenti sejenak untuk melemaskan telapak kakinya yang nyaris membengkak. Bahkan ketika sampai di tempat tujuan pun ia tetap tidak tau apa yang harus dilakukannya. Malam ini saja Nyai Anteh tidak memiliki tempat untuk tidur. Ketika dia sedang termenung sembari menatap langit yang gelap, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah berumur menegurnya.
“Maaf neng, apa yang tengah eneng lakukan di tempat ini? Disini terlalu gelap dan dingin. Apakah eneng bukan orang sini?” tanyanya.
“I..iya paman, saya baru datang!” kata Anteh ketakutan.Tempat ini memang tampaknya rawan akan kejahatan, tapi karna kakinya seolah tak mampu lagi melangkah, Nyai Anteh akhirnya tetap berhenti untuk istirahat.
“Oh maaf bukan maksud paman menakutimu, tadi paman hanya lewat di jalan ini lalu melihatmu. Karna wajahmu terlihat tidak asing bagi paman, itu sebabnya paman kesini. Kau mengingatkanku pada seseorang, wajahmu seperti kakakku yang bernama Dadap,”  
Anteh terkesiap, mungkinkah...
“Dadap? Nama ibuku juga Dadap. Apakah kakak paman bekerja di istana sebagai dayang?” tanya Anteh memastikan.
“Ya….! Apakah….kau anaknya Dadap?” tanya paman itu.
“Betul paman!” jawab Anteh bersemangat. Entah kebetulan atau tidak, mungkin ini keberuntungan yang diberikan tuhan di tengah-tengah kesulitannya.
“Oh, kalau begitu kau adalah keponakanku. Aku adalah pamanmu Waru, adik ibumu,” kata paman Waru dengan mata berkaca-kaca.
“Benarkah? Oh paman akhirnya aku menemukan keluarga ibuku!” tutur Anteh gembira. Matanya juga ikut berkaca-kaca. Ia melihat secerca harapan di akhir kabut hitam yang membawanya ke tempat ini. Tidak disangka dari semua penduduk desa dia justru bertemu dengan pamannya sendiri.
“Sedang apakah kau disini? Bukankah kau juga seorang dayang?” tanya paman Waru.
“Ceritanya panjang paman. Tapi bolehkah saya minta ijin untuk tinggal di rumah paman? Saya tidak tahu harus kemana,” pinta Anteh.
“Tentu saja nak, kau adalah anakku juga. Tentu kau boleh tinggal di rumahku. Ayo kita pergi!” kata paman Waru.
Sejak saat itu Nyai Anteh tinggal di rumah pamannya di desa. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Mula-mula Anteh menjahitkan baju-baju tetangga, lama-lama karena jahitannya yang bagus, orang-orang dari desa yang jauh pun ikut menjahitkan baju mereka kepada Anteh. Sehingga ia dan keluarga pamannya bisa hidup cukup dari hasilnya menjahit.
Bertahun-tahun telah berlalu. Nyai Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Suatu hari di depan rumahnya berhenti sebuah kereta kencana dengan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik kereta kencana itu melongokkan kepalanya, Nyai Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Putri Endahwarni turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Nyai Anteh.
“Oh Anteh, sudah lama aku mecarimu! Kemana saja kau selama ni? Kenapa tidak sekalipun kau menghubungiku? Apakah aku benar-benar menyakiti hatimu? Maafkan aku Anteh. Waktu itu aku kalap sehingga aku mengusirmu padahal kau tidak bersalah. Maafkan aku…” ujar Putri Endahwarni sembari menangis.
“Gusti…jangan begitu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu gusar,” kata Anteh.
“Tidak. Akulah yang bersalah. Untuk itu Anteh, kau harus ikut denganku kembali ke istana!” pinta putri.
“Tapi gusti putri aku sekarang punya suami dan anak. Aku juga bekerja sebagai penjahit. Jika saya pergi, mereka akan kehilangan ibu dan istrinya.” jawab Anteh.
“Suami dan anak-anakmu tentu saja harus kau bawa juga ke istana,” kata putri sambil tertawa. “Mengenai pekerjaanmu, kau akan kuangkat sebagai penjahit istana. Bagaimana? Kau tidak boleh menolak, ini perintah!”
Akhirnya Nyai Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal. Namun Nyai Anteh selalu merasa tidak enak setiap bertemu dengan pangeran Anantakusuma, suami putri Endahwarni. Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Nyai Anteh telah membuat cintanya yang terkubur bangkit kembali. Mulanya pangeran Anantakusuma mencoba bertahan dengan tidak memperdulikan kehadiran Nyai Anteh. Namun semakin lama cintanya semakin menggelora.
Hingga suatu malam, pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, karna siapa tahu dia bisa bertemu dengan Nyai Anteh. Benar saja. Dilihatnya Nyai Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawat, kucing kesayangannya sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Meski kini sudah berumur, namun bagi pangeran Anantakusuma Nyai Anteh masih secantik dulu seperti saat pertama mereka bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Nyai Anteh tanpa wanita itu sadari.
“Anteh!” tegurnya.
Nyai Anteh terkejut ketika tiba-tiba pangeran Anantakusuma berdiri di hadapannya.
“Pa..pangeran? kenapa pangeran kemari? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?” tanya Anteh ketakutan seraya memeluk kucing kesayangannya erat-erat. Kali ini Anteh mendapatkan firasat burut mengenai kedatangan pangeran Anantakusuma. Nyai Anteh tidak mau ada yang salah paham, ia tidak ingin Putri Endahwarni membencinya lagi.
“Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa bersamamu. Anteh taukah kau? Bahwa aku sangat mencintaimu. Sejak kita bertemu di taman hingga hari ini, aku tetap mencintaimu,” kata pangeran bersemangat. Perlahan kakinya melangkah mendekat ke arah Nyai Anteh.
“Pangeran, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau adalah suami putri Endahwarni. Dia adalah kakak yang sangat kucintai. Jika kau menyakitinya, itu sama saja kau menyakitiku,” ujar Anteh.
“Aku tidak bisa… Aku tidak bisa melupakanmu!Aku juga tidak bisa mencintai Endahwarni. Kau.., kaulah yang harusnya menjadi milikku Anteh! Kemarilah biarkan aku memelukmu!” kata pangeran sambil berusaha memegang tangan Anteh.
Nyai Anteh mundur dengan ketakutan, ia menghempaskan tangannya dari genggaman pangeran, “Sadarlah pangeran! Kau tidak boleh mengkhianati Gusti putri. Aku juga telah memiliki suami dan dua orang anak. Aku tidak bisa bersamamu pangeran, seharusnya pertemuan ini tidak pernah terjadi. Pergilah pangeran, jangan pernah temui aku lagi,”
Mendengar jawaban Nyai Anteh hati pengeran Antakusuma semakin terpecut, baru saja ia mendapatkan penolakan Nyai Anteh dan hal itu sangat menyakitinya. Alih-alih menjauh, pangeran tetap berjalan mendekati Nyai Anteh sementara wanita itu mundur menjauhinya. Karna sangat ketakutan Anteh berusaha melarikan diri, ia terus berlari sekuat tenaga, namun pangeran Antakusuma tetap mengejarnya.
“Oh Tuhan, tolonglah hambaMu ini! Berilah hamba kekuatan untuk bisa lepas dari pangeran Anantakusuma. Hamba tahu dia sangat sakti. Karena itu tolonglah Hamba. Jangan biarkan dia menyakiti hamba dan kakak hamba!” Anteh berdoa dengan lirih sembari terus berlari. Ia menyadari langkah kakinya tak akan mampu menolongnya agar bisa terhindar dari pangeran. Jarak merekapun semakin dekat, cepat atau lambat ia pasti akan tertangkap.
Namun tiba-tiba Nyai Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia mendongak dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya. Pangeran Anantakusuma hanya bisa terpana menyaksikan sinar bulan itu membawa Anteh naik menuju langit, semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan.
Sejak saat itu Nyai Anteh tinggal di bulan, sendirian dan hanya ditemani kucing kesayangannya. Dia tidak bisa kembali ke bumi karena takut pangeran Anantakusuma akan mengejarnya. Jika rindunya pada keluarganya sudah tak dapat ditahan, dia akan menenun kain untuk dijadikan tangga. Tapi sayang tenunannya tidak pernah selesai karena si kucing selalu merusaknya. Kini jika bulan purnama kita bisa melihat bayangan Nyai Anteh duduk menenun ditemani Candramawat. Begitulah kisah Nyai Anteh sang penunggu bulan.
*****
                                                            TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...