Jumat, 06 November 2015

KEMBALI





Ada beberapa hal yang mungkin membuat keadaan kini berbeda.Sesuatu yang menyebabkan banyak kisah tak lagi sama.Aku seringkali menelan ludah yang pahit tiap kali menyadari semua itu,ketika aku membiarkan semua luka membekas di belakang dan tertinggal seiring dengan niatku untuk melepaskan.
Masih kental dalam ingatanku bagaimana aku mendustai hatiku sendiri lalu membiarkan keadaan melukainya lantas di suatu waktu luka itu sampai pada titik terparah.Aku mencoba bertabah menyadari cinta pertamaku terlepas dengan begitu sulitnya,dan aku terdiam tanpa melakukan apapun,hanya menangis setelahnya.Ini terlalu rumit,hingga saat ini aku masih merasakan sakitnya,aku tau bahwa sesuatu yang tertinggal itu begitu penting untukku,hanya saja aku tak punya daya untuk berbuat.Mungkin ada kalanya agar aku merelakan.
Aku menghela napas,bahkan terlalu berat.Mataku ingin menangis saja,mungkin pria di sampingku pun ingin mengetahui seberapa kuat aku bisa melupakannya.Dan itu membuatku tersenyum miris,kenyataannya adalah tidak sama sekali.Aku masih sangat ingat bagaimana saat kami saling suka lalu memulai untuk pacaran,untuk anak SMP berumur 13 tahun,semuanya terasa tabu namun kami menjalaninya sembari belajar mengenal satu sama lain.
Lucu sekali bagaimana kami sama-sama bertumbuh di masa-masa pubertas itu.Suaranya bertambah berat dan ada  jakun di lehernya,tinggi badannya bertambah begitu cepat hingga aku merasakan perbedaan pada genggaman tangannya,dia mulai remaja.Aku memperhatikan setiap perkembangan yang dialaminya,begitupun dirinya.Dia bahkan tau bagaimana ketika aku mendapatkan haid pertamaku,dan mengingat tanggal berapa saja hal itu berlangsung setiap bulannya.Karna ia memperhatikan perubahan emosional yang ada pada diriku tiap kali kami bersama.Yang membuatku malu,saat buah dadaku mulai menonjol dan dia memandangku dengan seksama,dia terlalu perhatian sampai hal-hal seperti ini tak luput dari penglihatannya. Aku sempat kesal saat itu,namun beberapa jam kemudian semuanya luntur saat ia memunculkan ekspresi bersalahnya ketika meminta maaf.Memang dia tak sepernuhnya salah,dia hanya kelewat memperhatikan perkembangan yang terjadi pada diriku.
         
Tiga tahun kami lewati bersama dengan menyandang status pacaran.Aku tidak mengerti kenapa bisa selama itu,padahal awalnya aku hanya berniat coba-coba dan dia cuma ingin mengetahui perasaanku.Tapi apa boleh buat jika rasa nyaman menyusupi relung demi relung hati kami dan menguatkannya hingga sekukuh ini.Rasanya ingin menangis jika aku mengingat saat dirinya dengan malu-malu menggenggam tanganku,kemudian menyeka air mataku seraya meminjamkan bahunya ketika aku bersedih.Menyenangkan bagaimana kami bisa mengetahui keadaan masing-masing walau tanpa memberitahukan sebelumnya,seperti semacam telepati.Lalu saling menghibur, memberikan perhatian setiap harinya dan saling tersenyum ketika beradu pandang.Aku tidak akan melupakan saat-saat itu,tidak akan pernah.
Lantas banyaknya penghalang pun selalu ada,tapi semua itu bagaikan hujan yang datang dan pergi,tak ada yang terlalu berarti hingga suatu kejujuran terungkap.Adikku menyukai pacarku sendiri.Ragaku serasa terhempas entah kemana ketika aku mendapati Gina,adikku mengigau dalam tidurnya menyebut-nyebut nama Revan.Aku berpikir ada kesalahan,berulang kali aku berkelit dengan kenyataan itu bahwa Revan yang Gina maksud bukan Revanku,mungkin Revan yang lain.Namun berulang kali juga Gina menegaskan dalam tidurnya,Revan yang ia sukai adalah Revan pacar kakak kandungnya sendiri.Dia ingin Revan,ingin Revan meninggalkanku karna Gina tidak sanggup kala melihat Revan bersamaku,dia membenci hal itu.
Aku menangis dalam diam,membiarkan bahuku berguncang mengeluarkan kesakitan yang aku alami tanpa Revan saat itu.Merasa bingung dengan apa yang seharusnya aku lakukan karna tidak mungkin menyakiti keduanya.Sudah cukup kehilangan yang Gina dan aku alami setelah kepergian mama.Kami semestinya saling berangkulan menguatkan satu sama lain,tapi kalau begini bagaimana bisa,aku akan membenci diriku sendiri jika menyakiti Gina.Sementara Revan, aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkannya.Dulu di bawah langit beserta gugusan bintangnya,aku dan Revan memanjatkan do’a kepada sang pencipta agar kami terus bersama. Kami sama-sama tidak berpikir apa yang terjadi nanti jika kami dewasa,hanya ada satu keinginan yang selalu terpanjatkan dan tidak pernah berubah hingga saat ini,kami tidak mau terpisah.
Perlahan air mataku memberontak dari penampungnya ketika ingatan tersebut bergulir bagai roda.Tapi kali ini tanganku sendirilah yang menyekanya agar berhenti.Aku mencoba menghianati hatiku sendiri dengan melepaskan Revan demi Gina.Sebab seminggu setelah kepergian mama,sikap Gina mulai berubah padaku.Aku tau dia marah dan sakit hati,Revan sering datang ke rumah hanya untuk menguatkanku atau meminjamkan catatannya selagi aku tidak bersekolah dalam masa berkabung.Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan, selama itu aku masih bersikap egois karna aku pikir Gina seharusnya mengerti aku,dia hanya setahun lebih muda dan bukan berarti baginya untuk terus merengut karena cemburu.Aku pun punya hak bahagia,kami sama-sama kehilangan mama hanya bedanya aku memiliki Revan dan dia tidak.
Hubungan kami memburuk,dia terus merajuk sedangkan aku berusaha tidak mendengarkan. Tidak ada gunanya merisaukan keinginan Gina,dia memang terlalu manja,semua keinginannya harus terpenuhi bagaimanapun caranya,dan sangat egois.Aku berpikir untuk mengubah sifat buruknya kala itu.Namun jalan pikiranku lah yang berubah saat papa memintaku untuk berbicara dengannya,kami sama sekali tidak menyinggung tentang Revan,papa hanya ingin aku bersikap lebih dewasa,belajar bertoleransi dan menjaga Gina.Aku paham bagaimana sibuknya beliau semenjak tak ada mama,dia harus menjalankan perusahaan sendirian,bahkan mungkin tak memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya.Aku paham,mungkin karna itulah beliau memintaku untuk menjaga Gina,papa bilang dia percaya padaku,dan aku tak dapat berkata apa-apa lagi setelah itu.
Beberapa hari aku gunakan untuk merenung,memikirkan semuanya,Gina,Revan,papa, dan aku mengambil keputusan.Kamis sore sehabis aku dan Revan selesai jalan-jalan,aku mengungkapkan keputusanku.Aku meminta putus,lalu sesegera mungkin akan pindah sekolah sebab aku tidak ingin terus-terusan merasa bersalah pada Revan.Awalnya Revan sempat tidak percaya,dia menyangka aku hanya bercanda,dia sangat tau aku adalah orang yang humoris dengan segala tingkah laku yang apa adanya.Lalu dia marah saat aku tak meralat ucapanku,aku ingin putus.Aku tak menutupi apa-apa,aku katakan Gina menyukainya dan aku tak mau bersikap egois pada adikku sendiri.Tapi justru dia yang menuduhku egois,Revan bilang aku yang tak bisa mengerti perasaannya dan aku diam,tak berani membalas.Semuanya diluar kendaliku,aku hanya tidak ingin menyakiti Gina juga menyalahkan kepercayaan papa,aku pun tak ingin Revan kecewa. Namun aku tak bisa memiliki hal tersebut sekaligus,harus ada yang berkorban dan itu aku sendiri.
Sekarang setelah satu tahun,aku kembali duduk disini,dimana do’a ku bersama Revan terpanjatkan.Di bawah langit beserta gugusan bintangnya,aku duduk berdua dengan Revan dalam posisi yang sama tapi pada kenyataan yang berbeda.
“Sadar nggak sih,kita sama-sama nyakitin diri sendiri,” Revan memulai pembicaraan.
Aku menghela napas berat,memandang kemana saja asalkan bukan Revan.Karna jika aku melihatnya,aku tidak yakin apakah aku bisa menahan diriku sendiri untuk tidak mengakui perasaanku yang sebenarnya,”Aku tau.Tapi aku nggak punya pilihan,Gina suka sama kamu,”
“Kamu tinggal pilih aku,apa susahnya? Masalah Gina,dia bisa suka dengan orang lain.Aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia,” Tandas Revan.Aku serasa tertuduh,sebagian hatiku ingin sekali mengatakan iya,namun sebagian lagi menahannya.Perlahan saat tak ada satupun dari kami yang bersuara,jari-jari Revan menyusupi tanganku dan tak butuh waktu lama,tangan kami saling bertautan,”Ayo kita mulai lagi dari awal,” Ujarnya lirih.Aku bisa melihat kesungguhan di matanya.
Aku menggigit bibir,mencoba mengikuti kata hatiku,”Tapi Gina?”
“Biar Gina belajar menyukai orang lain,aku nggak yakin perasaannya buat aku akan bertahan lama.Sementara kita? Kita udah ngerasa nyaman satu sama lain,kenapa harus putus hanya karna perasaan Gina yang kapan saja bisa berubah,”
“Dia bener-bener suka sama kamu,Van,”Aku masih menyanggah.
“Zizi,”Desis Revan,”Dia cuma butuh bertemu orang yang buat dia merasa mencintai dan dicintai,dan itu bukan aku,” Tegasnya.
“Jadi kamu mau bilang,kalau usaha aku percuma,”
Revan mengangguk,”Nggak ada gunanya,mau aku putus sama kamu pun,aku nggak akan berpaling pada Gina.Jadi lebih baik kita mulai dari awal,kita sudah cukup berkorban selama setahun ini. Ayo kita kembali lagi seperti dulu,”
Aku terdiam,menyapu setiap lekuk seraut wajah tampan Revan.Sadar,betapa aku begitu merindukan kehadiran pria ini,”Apa aku punya alasan untuk nolak?”
Senyum Revan mengembang,tangannya yang bebas menggenggam tautan tangan kami. Lalu kami kembali berdo’a bersama agar tidak terpisah lagi. Jika pun ada rintangan,kami berharap akan selalu ada jalan untuk kembali.
*****

By: Rubiatul Adawiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...