Jumat, 06 November 2015

INDONESIA KIAN BERKARAT






Sayang meski banyak yang tau, Indonesia malah jadi bahan remehan. Tiap kali melihat barang impor, tak urung produk-produk Indonesia yang kononnya jadul jadi bandingan. Lalu mana rasa bangga pada negeri sendiri?? Belum lagi isu-isu lingkungan yang kian memperihatinkan. Siapa kini yang tau bahwa di NTT masih saja ada modus penjualan manusia kalau bukan mereka-mereka yang peduli pada negeri, itupun tak seberapa dengan banyaknya para koruptor yang makin serakah membobol duit bangsa.
 Sekarang kejahatan menjadi kebiasaan, dan agama jadi bahan tawuran, saling amuk padahal saudara seperjuangan. Lingkungan hina dengan adanya pemuda-pemudi yang bermental pornografi dan masih banyak lagi masalah negeri ini yang amat sangat perlu dibenahi.
            Mari kita tengok pada masa majapahit, saat sang gajah mada bertaruh, berkorban jiwa dan raga untuk menyatukan Indonesia raya. Tak akan kentara suku ambon, baduy dan batak serta suku-suku lainnya jika tak ada kala itu. Disinilah seharusnya bangsa Indonesia ditempa kesadaran. Setelah banyak pertumpahan darah melewati dimensi-dimensi waktu penuh keringat pemikiran, haruskah Indonesia ternodai seperti ini?
Sekejab marilah bersama-sama kobarkan kepedulian, tengok sejenak anak-anak yang kelaparan, menatap nanar pada seragam sekolah, tak perlu bagus, ia hanya ingin memakainya sekalipun jahitannya terlepas di bagian rusuk. Lihat orang tua renta menyeret gerobak rapuh dengan botol-botol air yang tak luang, dia hanya berharap bisa makan, istrinya bisa memasakkan sesuatu untuknya hari ini meskipun hanya sepiring nasi. Dia akan makan dengan sederhana, menikmati sisa-sisa kekuatan di usia tua. Lalu bagaimana dengan mereka yang di bawah kolong jembatan, selimut saja cukup, ia sudah punya alas tidur seadanya, seandainya manusia lainnya bisa melihat bahwa mereka sangat membutuhkan. Apa gunanya barang impor miliaran rupiah sementara membelikan selimut murah untuk saudara sebangsa saja mereka tak mau.
Memperihatinkan bukan bangsa ini? Seperti besi yang berkarat, Indonesia kian lama taka da harganya jika poros pemerintahan dan kepedulian sosial selalu begini adanya. Cobalah peduli, setidaknya mengasihi kepada mereka yang hidup dalam keperihan. Sakitnya putus dengan cinta semasa SMA tak sesakit hati mereka yang berharap cinta dari saudara-saudara sebangsa. Indonesia akan jaya jika manusia yang tinggal di dalamnya menghargai sejarah, mencintai tanah air dan lingkungan serta saling membantu terutama bagi mereka yang membutuhkan. Jangan biarkan besi itu terus berkarat, coba cari jalan keluar agar setidaknya bisa bermanfaat. Jangan biarkan Indonesia tinggal kenangan, hamparan laut dan kepulauan, gugusan bintangnya yang bertebaran, tumpang tindih keaneka ragaman hayati, sumber daya alam yang luar biasa banyaknya, gunung-gunung tinggi yang menjulang tajam. Indonesia tak boleh berkarat meskipun pemimpin yang dapat terkadang sangat keparat karna dengan seenaknya mengambil uang rakyat. Indonesia pasti bisa menegakkan apa yang benar dan menggusur yang salah, dengan persatuan yang erat dan nasionalisme yang kuat terhadap tanah air, Indonesia tak akan semakin berkarat. 

(Ruby Adawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...