Rabu, 11 November 2015

Back to Rain Part 12



DUA BELAS
Dan mungkin untuk beberapa jam lagi, kita akan bertemu

Pintu rumah bi Siti terbuka ketika untuk yang ketiga kalinya Zizi mengetuk. Bi Siti muncul dari balik pintu dengan penampilannya yang ‘agak’ berantakan,  kaos kebesaran bahkan untuk badannya yang sudah cukup besar serta celemek hitam yang lumayan kotor. Zizi jadi merasa bersalah karna bersikeras untuk menemui Bi Siti sekarang dan tidak menunggu beberapa jam kemudian walaupun ia tau Bi Siti sedang sibuk-sibuknya saat ini. Ia pasti sangat mengganggu pekerjaan beliau. Tapi nampaknya Bi Siti berusaha tidak menampakkan hal itu pada Zizi, wanita berbobot XL itu tersenyum pada Zizi ketika ia mendapati Zizi tersenyum tanggung di balik pintu rumahnya. Selalu cantik dengan penampilannya yang rapi, seperti biasanya.
“Eh Zizi, masuk yuk masuk, ibu baru aja selesai masak, ayo masuk kita makan sama-sama,” Ucap Bi Siti bahkan sebelum Zizi mengutarakan keperluannya.
Zizi hanya menggeleng sopan, sama sekali tak bermaksud tidak menghargai kebaikan Bi Siti,” Nggak usah Bi, saya kesini cuma mau ngasih tau sesuatu kok,”
“Eeehh, ayo makan dulu. Pokonya Bibi nggak mau kalo Zizi nggak makan, ayo,”
Belum sempat Zizi menolak lagi, Bi Siti justru menarik tangan Zizi masuk  ke dalam, ”Kita makan sama-sama dulu ya, bareng Rena dan Raihan,” Lanjut wanita tersebut sembari menarikkan kursi untuk Zizi yang justru membuat Zizi bingung. Ia tidak punya kesempatan untuk mengakhiri kebaikan bi Siti sekarang. Rena sudah duduk di meja makan, tampak begitu menunggu-nunggu berkumpulnya semua orang di meja makan. Raihan yang tadinya tidak terlihat, datang dengan penampilan berantakan, wajahnya sayu seperti baru saja bangun tidur. Sementara Bi Siti sibuk sendiri meletakkan beberapa makanan tambahan di meja.
Raihan duduk dengan cueknya di kursi sebelah Rena dan berhadapan langsung dengan Zizi. Pria itu hanya melirik Zizi sekilas lalu duduk di tempat duduknya dengan begitu lemas, Raihan masih belum sadar sepenuhnya ketika Bi Siti memaksanya bangun untuk makan bersama.
Bi Siti mengambil piring Rena dan Raihan secara bergantian untuk memberikan nasi di atasnya. Baru ketika ia hendak mengambil piring di depan Zizi, kontan Zizi langsung menahannya, ”Nggak usah Bi, nanti biar Zizi ambil sendiri aja,”
“Oh yaudah, Zizi makan yang banyak ya,” Ujar wanita tersebut kemudian mengambil nasinya sendiri dan duduk di kursi tepat di depan anak-anaknya.
Zizi melihat semuanya sudah selesai makan. Meski belum berakhir benar, tapi setidaknya ini saat yang cukup nyaman untuk mengutarakan maksud awalnya datang kesini.
“Bi, sebenernya Zizi kesini karna Zizi ada perlu sesuatu,”
Bi Siti yang tengah menyendokkan sayur ke piringnya menoleh pada Zizi yang sama sekali tidak menyentuh apapun makanan yang disuguhkannya,”Nanti aja ngomongnya kalo selesai makan ya,”
“Tapi Zizi lagi buru-buru bi, ada urusan,” Zizi menukas cepat,”Zizi rasa Zizi akan kembali ke Jakarta besok,”
Kontan Bi Siti meletakkan piring dan sendok yang tadi di pegangnya lalu menghadap sepenuhnya ke arah Zizi,”Besok?”
“Kamu mau balik ke Jakarta Zi?” Celetuk Raihan tiba-tiba, penampilan pria itu masih tak ada bedanya, tapi kali ini indranya lebih peka.
“Kak Zizi serius mau balik ke Jakarta?” Rena yang tadinya hanya diam ikut-ikutan menyahut.
“Kenapa harus kembali secepat ini? Kamu kan baru satu bulan lebih tinggal disini kenapa sudah mau balik? Apa kamu nggak kerasan tinggal di rumah itu? Apa kamu takut? Atau ada yang gangguin kamu? Bilang sama bibi, nanti biar bibi yang kasih pelajaran dia, kamu juga bisa tinggal di rumah ini kalo kamu takut tinggal sendirian. Kenapa nggak didiskusikan dulu sama bibi? Kenapa harus tiba-tiba seperti ini dan kamu bilang besok? Nggak Zizi, bibi nggak bisa biarin kamu balik besok,” Tutur Bi Siti bertub-tubi. Zizi hanya diam sementara ia ingin menjelaskan dari awal bahwa Bi Siti salah paham, hanya saja ia tidak punya celah. Akhirnya ia hanya tersenyum.
“Zi serius kamu mau balik besok?” Raihan menambahkan kesalah pahaman.
“Zizi mau balik ke Jakarta bukan karna Zizi udah pengen pindah kesana lagi. Zizi nggak berniat akan pergi secepat ini dari sini. Zizi kesana karna lusa seratus harinya bang Reza meninggal. Zizi mau datang ke acara tahlilan bang Reza, dan entah kenapa kebetulan mulai besok adik kelas dua study tour, sekolah libur selama tiga hari. Dan itu akan Zizi manfaatkan untuk pulang ke rumah,” Zizi menjelaskan. Bi Siti masih terdiam, Raihan dan Rena pun demikian. Rupanya mereka masih belum percaya benar,”Zizi beneran cuma akan ada disana tiga hari kok Bi selama sekolah libur. Bibi bisa tanya sama Raihan, mulai besok kami semua memang libur,”
Raihan yang mendengar namanya disebut kontan tersadar dari diamnya,”Iya bu, memang mulai besok sekolah libur selama tiga hari,”
“Enak banget bisa libur,” Rena menyahut polos yang langsung disambut Zizi dengan senyuman. Ia juga senang sekolahnya libur, bahkan lebih senang dari anak-anak yang lain. Ia benar-benar merindukan keluarganya yang tersisa dan kebersamaannya, hidup sendirian bukan pilihan yang nyaman meskipun disini ia punya teman.
“Kamu mau berangkat besok?”
Zizi mengangguk,”Secepatnya lebih baik,”
“Kamu akan naik apa untuk kembali kesana? Pak Min jemput?”
“Pak Min jemput kalo udah nyampe di Bandara nanti. Zizi akan naik pesawat, kira-kira dari Surabaya pukul enam pagi udah berangkat. Sekarang Zizi mau beli tiket pesawatnya dulu. Jadi maaf ya Bi, Zizi nggak bisa ikut makan. Zizi datang kesini cuma mau bilang kalo selama Zizi pergi, Zizi titip mobil sama rumah, takut ntar nggak sempat bilang,”
“Jam berapa kamu akan berangkat dari sini?”
Pukul 4 pagi, mobil Zizi taruh disini, Zizi akan berangkat naik taksi,”
Bi Siti tampak menghela napas, jari-jari tangannya yang saling bertautan diletakkannya di atas meja,”Bibi kira kamu udah nggak betah tinggal disini dan mau balik secepatnya. Bukannya Bibi nggak mengizinkan, tapi kan Bibi juga punya tanggung jawab untuk membuat kamu nyaman berada disini meskipun Bibi tau pasti akan sangat susah. Besok jam setengah 4 pagi Bibi udah siap di rumah kamu ya, nanti kamu sarapan disini aja. Berangkatnya bareng Raihan, suruh dia temenin kamu. Jangan sungkan untuk bilang sama Bibi kalo kamu merasa kesulitan disini,” Ujar Bi Siti lembut sembari memegang tangan Zizi. Mengingat ini Zizi tidak sabar untuk segera pulang, ia rindu mamanya, rindu sentuhan lebut wanita itu. Dan ketika Bi Siti menyentuhnya seperti merasa mama begitu dekat dengannya.
Sambil menahan air matanya agar tidak berontak keluar Zizi mengangguk, menggigit bibirnya agar ia bisa bertahan untuk tidak menangis. Keluarga ini begitu baik padanya sampai-sampai Zizi tidak ingat kapan ia tidak merepotkan mereka.
“Zizi pergi dulu ya Bi, maaf Zizi nggak bisa ikutan makan,” Pamitnya sopan.
Bi Siti mengangguk seraya membelai lembut rambut Zizi,”Iya,”
*****
“Biasanya kamu sampai di Jakarta jam berapa Zi?” Tanya Raihan memecah keheningan yang terjadi di dalam taksi. Cowok itu berbicara tanpa menghadap ke belakang, pada Zizi yang tengah asik memandangi keadaan di jalanan.
Pagi, jam berapa aku nggak tau. Perjalanan ini nggak akan terlalu lama kok,”
“Kira-kira kamu pulang kapan? Pas besok lusa?”
Zizi menggeleng walau tak yakin Raihan akan melihatnya,”Mungkin setelah libur, aku pasti akan pengen berlama-lama tinggal disana,”
“Emang harus ya kamu datang ke acara tahlilan kakak kamu, ini kan udah yang ke seratus harinya,”
“Nggak sih, tapi aku rasa aku nggak akan tenang kalo aku nggak kesana. Meski nggak libur pun aku akan tetap pulang, aku kangen banget sama keluarga aku,”  Zizi menjawab datar, sama sekali tidak berminat untuk mengalihkan perhatiannya. Ia sudah tidak sabar sampai di rumah dan bertemu semua anggota keluarganya. Zizi juga sangat ingin melihat keadaan seseorang disana. Sejak ia memutuskan untuk pulang sementara, ia sudah bertanya-tanya apakah keadaannya masih sama buruknya seperti terakhir kali Zizi bertemu.
Akhirnya keadaan di mobil hening kembali. Raihan lihat Zizi benar-benar tidak bisa menjadi teman mengobrol yang menyenangkan kali ini. Gadis itu tengah menatap keluar dengan kalemnya sementara ia terlalu bosan. Tak ada pembicaan yang terlintas di akhir perjalanan sampai mereka tiba di bandara. Raihan segera membuka pintu taksi begitupun dengan Zizi sehingga ia tidak perlu menunggu gadis itu di luar. Zizi juga hanya membawa satu tas ransel yang tidak terlalu berat, gadis itu sungguh tak terlalu repot dalam menyiapkan sesuatu untuk perjalanan. Berbeda halnya dengan dirinya dan ibunya, semalaman mungkin mereka akan menghabiskan waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Tapi begitu menginjakkan kakinya di bandara Raihan jadi berpikir. Mungkin orang kaya memang seperti ini, hidup mereka terlalu mudah karna jika butuh sesuatu mereka hanya tinggal membelinya, tidak perlu membawa banyak-banyak dari rumah sebagai persediaan atau jaga-jaga.
“Kalo kamu bosen kamu boleh pulang sekarang,”
Raihan membulatkan matanya, menatap gadis di depannya ini dengan pandangan tidak percaya. Apa secepat ini Zizi berubah, hanya karna gadis itu sudah akan kembali pada keluarga serta kehidupannya kembali.”Baru juga sampai kamu udah usir aku?” Seru Raihan keberatan. Sedangkan Zizi hanya membalasnya dengan seringaian.
“Maaf, aku cuma kawatir kamu akan bosan disini. Lagian, aku nggak mau terlalu ngerepotin kamu, makasih karna kamu mau anterin aku kesini,” Zizi berucap tulus, dan itu membuat wajah kesal Raihan sedikit mengendur.
“Aku udah sampe sini, setidaknya biarin aku anterin kamu sebelum kamu benar-benar naik pesawat. Sekaligus kasih laporan untuk ibu kalo kamu baik-baik aja,”
Zizi tersenyum, “Yaudah,yuk,” Ajaknya kemudian. Raihan pun menjawabnya dengan senyuman.
*****
By: Rubiatul Adawiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...