Rabu, 11 November 2015

Back to Rain Part 11



SEBELAS

Cemburu lagi, untuk kesekian kalinya

“Kenapa nggak ada yang bilang kalo kalian tetanggan?” Itu pertanyaan yang pertama kali Putri ajukan begitu dirinya, Raihan dan Zizi duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Suasana yang sebenarnya biasa saja ini jadi sedikit menegangkan karena ekspresi Putri. Sangat kentara sekali bahwa gadis itu tidak suka Raihan merahasiakan sesuatu tentang Zizi darinya.
Zizi melihat pada Raihan sekilas yang juga tengah menatap ke arahnya, ia bingung untuk menjelaskan tentang hal ini, karna ia tidak yakin bahasanya cukup halus supaya tidak membuat Putri tersinggung.
“Yaah.., nggak papa. Karna emang nggak ada yang nanya,” Jawab Raihan sekenanya, dan menurut Zizi itu tidak membantu sama sekali sebab kening Putri justru semakin berkerut. Zizi bahkan ingin mengutuk Putri saat ini juga, lagipula untuk apa ia mengatakan bahwa dia dan Raihan bertetangga kepada Putri, toh sampai saat ini mereka berdua belum pacaran.
“Mmmhh,gini. Kami bukannya nggak mau bilang, tapi karna aku juga baru tau kalo aku dan Raihan tetanggaan setelah beberapa hari aku tinggal disini, dan lagi aku rasa nggak ada gunanya ngasih tau anak-anak kecuali mereka tanya sendiri sama aku. Jadi bukan maksudnya nutup-nutupin,” Terang Zizi, dan Raihan hanya membantunya dengan memberikan anggukan agar lebih meyakinkan.
“Ohh, pantes kalian akrab banget, padahal kan baru kenal,”
Raihan hendak menyahut, tapi buru-buru Zizi menyelanya,”Aku, Riski, Feby, Fitri dan Ita, juga baru kenal empat minggu yang lalu, kami langsung akrab, kemana-mana bareng. Itu karna aku orangnya emang gampang bergaul sama siapa aja asalkan mereka menyenangkan,”
“Kamu sering main kesini? Mmm…, maksud aku kalian sering bareng kalo ada di rumah?”
Zizi hanya menyeringai mendengar pertanyaan Putri yang tampak khawatir dengan kebersamaan dirinya dan Raihan. Sangat jelas, terutama dari cara Putri menatapnya. Meskipun ia juga bingung kenapa Raihan tak juga bisa melihat betapa gadis bernama Putri ini sangat menyukainya.
”Aku kesini kalo ada keperluan sama Bi Siti aja, beliau orang pertama yang aku kenal disini. Jadi bukan nggak mungkin kita suka ngobrol bareng. Memang kenapa sih kalo aku sering-sering kesini?” Zizi membalikkan pertanyaan, dia benar-benar tidak suka dengan cara Putri mencecarnya.
Wajah Putri langsung merona kemerahan, gadis itu membenahi rambutnya dan tersenyum dengan sedikir dipaksakan,”Nggak papa sih, wajar donk kalo kalian deket. Aku cuma heran aja kok kalian bisa seakrab ini padahal kalian kan belum lama kenal,” Tuturnya, masih salah tingkah. Zizi memandang dengan tatapan menyelidik, tapi Putri tidak sadar, apalagi Raihan. Pria itu memang sama sekali tidak peka.
 “Yaudah deh, semuanya udah jelas kan jadi nggak perlu ada yang jadi salah paham,” Ucap Zizi seraya melirik Putri sekilas,”Aku mau ke dapur dulu, mau ketemu Bi Siti,” Lanjutnya. Zizi lantas berlalu setelah sebelumnya melemparkan senyuman pada Putri dan Raihan. Bahkan dalam keadaan sadar pun, Zizi tidak mengerti mengapa dirinya bisa sesinis itu.
*****
“Ipod siapa nih Tih?” Putri kembali ke tempat duduknya di sebelah Ratih, dan berseru heran mendapati teman sebangkunya yang tiba-tiba saja suka mendengarkan musik.
Ratih membuka sebelah Headset di telinganya dan menoleh ke arah Putri,”Kenapa? Mau pinjem?” Sahutnya tak acuh dengan pertanyaan Putri.
“Boleh,”
Putri menerima sebelah headset yang di sodorkan Ratih lalu memasangkan ke telinga kirinya. Memang dia tak begitu suka menyanyi, tetapi mendengarkan musik adalah salah satu hobinya ketika sedang bosan. Untuk pertama kalinya ia justru melihat Ratih mendengarkan musik tanpa meminjam HPnya. Biasanya Ratih justru memilih HP Putri sebagai toko musik yang kapanpun bisa dipinjamnya sebab dia sendiri tidak terlalu up-date dengan lagu-lagu terbaru yang bagus-bagus. Putri membolak-balik ipod yang dipegang Ratih, meski tidak terlalu tau banyak tentang teknologi, tapi setidaknya ia bisa mengetahui sedikit dari yang ia lihat di Internet maupun di televisi. Dan gadget yang ada pada Ratih kini, ia tau tak banyak orang yang bisa memilikinya kecuali orang-orang yang lumayan berkecukupan.
“Tumben kamu beli ipod keren kayak gini, emang hp aku udah nggak enak lagi ya? Atau jangan-jangan ini dapat dari hadiah undian?” Ujarnya penasaran.
“Aku mana kuat beli ipod kayak gini, bisa punya hp bagus aja syukur,”
“Oohh…, kalo gitu dapet undian dari mana?”
“Bukan, aku nggak dapat undian manapun. Ini bukan punya aku, satu-satunya anak yang punya gadget-gadget canggih kayak gini disini siapa lagi kalo bukan Zizi. Tadi aku pinjam ini ke dia, sekali-kali pake barang canggih nggak papa donk meskipun bukan milik sendiri,” Tutur Ratih santai dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi dari Putri.
Dilihatnya Zizi tengah memainkan iphonennya yang juga keluaran terbaru. Keningnya berkerut, sadar mengapa dirinya mendadak berubah ketika melihat sosok Zizi yang awalnya begitu mengagumkan di mata Putri. Tapi begitu ia mengetahui kedekatan Zizi dengan seseorang yang disukainya, semua yang ada pada gadis itu seolah tanda bahaya baginya. Dan Putri tidak suka meskipun sejatinya ia tau, tidak seharusnya dia mendapatkan pikiran seperti ini.
*****

By: Rubiatul Adawiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...