Kamis, 01 Oktober 2015

Back to Rain Past 10



SEPULUH

Dan perasaan apakah ini? Cemburukah?
Zizi merasa ragu untuk menuju ke bangku Raihan ketika melihat siapa yang duduk disana bersama pria itu, Putri. Ia menyesali perasaannya yang tak karuan melihat keakraban keduanya. Padahal Raihan hanya mengajari Putri materi fisika yang baru saja satu jam yang lalu selesai dibahas oleh Pak Edi. Fikirannya mulai tak jelas menyadari keduanya duduk berdekatan. Butuh waktu lama baginya agar ia beranjak dari bangkunya. Ditangannya tergenggam handphone Raihan untuk ia kembalikan. Apa lagi? Zizi hanya punya alasan itu. Dia hanya perlu datang dan meletakkan handphone tersebut di depan pemiliknya. Namun yang terjadi dirinya hanya diam memandangi sembari menahan dongkol. Benar-benar menyebalkan bagaimana ia punya perasaan semacam ini pada pria macam Raihan.
Mungkin sekitar sepuluh menit ia sanggup menahan, merutuki perasaannya hingga akhirnya Zizi bangkit dari posisinya dan berjalan dua bangku di belakangnya.
 “Handphone kamu, makasih,” Ujar Zizi yang cukup membuat Raihan dan Putri menoleh ke arahnya.
Raihan meraih hpnya dan menatap Zizi kembali,”Ngeliat apaan sih disini? Jangan-jangan….,”
“Jangan-jangan apa?” Sahut Zizi yang gagal beringsut dari tempatnya lantaran ucapan Raihan.
“Nggak jadi deh,”
Kening Zizi berkerut,”Apaan sih,” Desah Zizi masih penasaran.
“Yeee sewot cuma gitu doang. Jangan-jangan semalem kamu nangis deh, makanya sekarang jadi badmood,”
“Ngapain nangis?” Sergah Zizi. Ia sempat melihat Putri yang kebingungan menatapnya dan Raihan secara bergantian.
“Kan tadi malem kamu sedih,”
“Tapi gue nggak secengeng itu lagi,” Zizi menukas, ia benar-benar ingin segera menyelesaikan percakapan ini, dia tau sekarang Putri pasti sedang heran mengapa Raihan tau bahwa dirinya tengah bersedih dan Zizi tidak mau membuat kesalahpahaman dengan cewek itu.”Udah  ah,” Tegasnya berniat meninggalkan tempat ini sekarang juga.
Baru saja Zizi hendak berbalik, Raihan kembali memanggilnya,”Eh Zi tunggu dulu, kamu ngerti rumus yang ini nggak?”
Zizi memutar bola matanya,”Yang mana?”
“Yang ini,” Raihan menunjuk kotak kecil dari buku catatannya yang distabilo kuning, ”Aku kurang ngerti rumus ini, ajarin donk,”
Zizi melirik ke arah Putri yang sejak tadi membisu dan tengah menghadap ke bukunya sendiri, ”Kalian kan bisa diskusi,”
“Tapi Putri juga nggak ngerti, iya kan Put,”
Putri yang merasa dirinya dipanggil pun kontan mengangkat kepalanya dan mengangguk, ”Iya,” Jawabnya dengan suara yang Zizi tidak habis pikir, kenapa ia tidak memiliki suara selembut itu.
“Yaudah sini,” Ujar Zizi, akhirnya. Ia tidak punya pilihan.
*****
Zizi menatap Raihan heran, sejak tadi pria itu tak lepas dari hpnya. Padahal saat ini mereka sedang jogging bersama dan beberapa kali Raihan tak mengindahkan ucapannya. Gara-gara hal tersebut Zizi enggan bercerita lagi kecuali jika Raihan bertanya padanya. Tidak enak juga dicuekin selagi kita sedang ingin berbagi. Kening Zizi berkerut saat didapatinya Raihan tengah senyum-senyum sendiri memandangi layar di hpnya, lalu ia segera mengetik beberapa kalimat dengan cepat dan meletakkan hpnya kembali. Tidak biasanya Raihan jadi sesibuk ini dengan handphone, ponsel Raihan bukan gadget canggih yang bisa digunakan untuk fitur apa saja seperti hpnya, tidak juga untuk aplikasi lainnya yang akhir-akhir ini sedang ngetren. Tapi melihat Raihan yang bolak-balik melihat hpnya, cowok itu justru lebih sibuk daripada Zizi saat memainkan i-phonennya.
“Lagi ngapain sih? SMSan?” Tanya Zizi yang tak bisa menahan rasa penasaran.
Raihan lantas meletakkan hpnya ke dalam saku celana lalu tertawa kecil,”Oh ini, iya, sama temen,”
“Aku nggak nanya sama siapa kan?” Sahut Zizi cuek.
“Kali aja pengen tau,”
“Aku justru baru tau kalo kamu ternyata suka SMSan juga, baru ngeliat sih,”
“Ahh..,aku juga jarang banget SMSan, kalo lagi ada temen aja,”
Zizi mengangguk-nganggukkan kepalanya,”Ohh, jangan-jangan sama Putri ya?” terkanya sekaligus setengah menggoda.
Raihan menoleh dengan kening berkerut,”Sok tau,”
“Ngaku deh, emang sama siapa lagi,”
“Eh Zi, ntar langsung ke rumah aku ya. Ibu hari ini bikin kue, pasti enak deh,” Seru Raihan mengalihkan pembicaraan.
“Ibu kamu bikin kue sepagi ini?”
“Ada pesenan mendadak, dan tiap kali bikin kue ibu pasti selalu bikin lebih,”
“Kamu suruh aku bantuin masak atau bantuin makan?”
“Tergantung ibu udah selesai atau belom bikin kuenya,kenapa?”
“Aku nggak bisa masak,” Ujar Zizi. Meski sedikit malu juga jika Raihan mengejeknya tentang kelemahannya ini, tapi ia rasa tak ada gunanya juga ia menutup-nutupi.
“Ohh,” Raihan bergumam. Zizi meliriknya sekilas, dan lagi-lagi pria di sampingnya kini memasang wajah polos. Raihan bahkan tak berkata apa-apa setelah ini, membuat Zizi gemas sekaligus penasaran tentang apa yang dipikirkan pria itu.
“Ohh?”
Raihan mengangguk,”Masakan apa aja yang bisa kamu buat?”
“Nggak banyak, mie rebus, masak air, goreng telor, tahu, tempe, pokoknya makanan yang digoreng, itupun kalo udah dibumbuin,” Zizi menyebutkannya dengan lancar. Dia rasa tak perlu menambahkan bahwa dirinya bahkan tidak bisa membedakan laos, jahe dan kunyit.
“Sebagai seorang pelajar, kamu memang gemilang, nggak banyak anak yang punya banyak talenta seperti kamu. Tapi sebagai seorang cewek, kamu menyedihkan,”
“Aku tau, dan bagusnya seandainya kamu mengatakan itu dengan lebih halus lagi,” Ucap Zizi setengah menyindir, yang justru membuat Raihan menyeringai kecil.
“Maaf, tapi menurut aku seperti itu. Rena bahkan bisa memasak makanan jauh lebih banyak daripada yang kamu sebutin tadi. Aku bahkan selalu masak sendiri kalo kebetulan ibu nggak ada di rumah dan nggak ada makanan sama sekali,”
“Kamu bisa masak?”
Raihan mengangguk mantap,”Jauh lebih baik daripada kamu.”Sahutnya. Zizi berdecak dan Raihan nyaris tersedak  melihat ekspresi gadis di sampingnya kini,”Kamu harus banyak belajar sama ibu selama kamu ada disini, bagaimanapun cewek itu harus bisa masak,”
“Aku takut ganggu waktu kerja Bi Siti,”
“Kata siapa, ibu nggak setiap hari dapet pelanggan banyak. Pernah suatu hari dia bahkan nggak bekerja sama sekali karna semua pelanggan kami sedang libur. Coba deh Zi, ibu pasti dengan senang hati mau ngajarin kamu,”
“Ok, lain kali aku akan coba belajar,”Jawab Zizi pasrah.
Keduanya membelok ke satu jalan menuju rumah masing-masing. Tak ada pembicaraan lagi yang terlintas selagi mereka berada di jalan dekat rumah. Beberapa orang melewati jalan di sekitar untuk berolahraga maupun hanya jalan-jalan saja. Minggu pagi memang selalu menyenangkan, banyak waktu untuk dihabiskan hanya dengan bersantai atau membersihkan rumah. Di ujung jalan terlihat tukang sayur beserta ibu-ibu rumah tangga sedang melakukan transaksi jual beli, bahkan di sejumlah rumah terdapat toko kecil-kecilan yang menjual kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga tak perlu jauh-jauh untuk membeli ke supermarket. Suasana ini berbeda jauh dengan keadaan di rumah Zizi, di kompleks perumahan elit tempat tinggalnya berada, tak ada yang namanya toko kecil-kecilan, mereka semua lebih memilih membeli kebutuhan pokok di supermarket dalam jumlah cukup banyak yang terkadang beberapa disimpan untuk kebutuhan mendadak.
“Ayo,” Ajak Raihan lagi begitu mereka tengah sampai di pagar rumah Bi Siti.
Zizi menurut dan berjalan di samping Raihan, ia ikut mengucapkan salam ketika hendak masuk rumah lalu mendapati seseorang tengah duduk di ruang tamu dan tengah memandang ke arah pintu yang terbuka lebar.
“Putri?” Seru Raihan dengan nada sedikit heran. Putri menatap pada Raihan sebentar lalu melirik pada Zizi yang entah kebetulan atau tidak, keduanya berjalan begitu dekat. “Kamu kenapa udah ada disini? Kan aku udah bilang biar aku aja yang ke rumah kamu,”
Putri menghela napas sejenak sembari mencoba tersenyum,”Aku pikir kamu bakal seneng kalau aku yang datang kesini,”
“Aduh Put, yang jelas aku seneng lah. Tapi kan ntar kamu yang susah lagi kalau harus kesini,kamu kan harus naik angkot dulu, aku sih tinggal naik motor aja,” Ujar Raihan dengan rasa bersalah. Zizi bahkan dengan mudah mendapati ekspresi itu ketika Raihan melakukan suatu hal yang kurang nyaman pada Putri. Sementara ia tak menemui ekspresi Raihan itu padanya sama sekali dalam keadaan apapun.
“Tadi aku dianterin sama ayah kok,Han. Kebetulan ayah ada acara yang jalannya searah dengan rumah kamu, jadi aku sekalian aja. Kamu dari mana? Habis olahraga?”
“Ooh, iya. Baru aja pulang jogging sama Zizi,”
Kontan kening Putri berkerut, tatapannya kini beralih pada Zizi yang tengah tersenyum tak berdaya. Gadis itu pasti kian bertanya-tanya tentang dirinya, dan melihat sorotan mata Putri, Zizi merasakan seolah ada rasa khawatir yang ditujukan padanya.
“Kalian? Kalian kok bisa bareng?” Tanya Putri bingung.
Raihan menoleh pada Zizi dan tertawa kecil,”Oh ya, aku belum kasih tau ya kalo aku sama Zizi tetanggaan,”
Putri menatap Zizi yang saat itu tengah tersenyum menunjukkan tanda damai, ia sama sekali tak ingin membuat hubungan Raihan dan Putri letak karenanya. Meski Raihan tak menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari pandangan Putri padanya serta pandangan Zizi kepada Putri.
*****
(rubyadawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...