Kamis, 04 Juni 2015

Back to Rain Part 8



DELAPAN

Kau, Putri dan rasa yang tak pernah berwujud....

Raihan tersenyum lega begitu ia mendapati Zizi di lapangan sambil memantul- mantulkan bola basketnya, lalu beberapa detik kemudian Zizi melemparkan bola tersebut ke dalam ring, dan masuk. Zizi melakukan itu sekali lagi sebelum akhirnya ia melihat Raihan tengah berlari ke arahnya kemudian berhenti kira-kira satu meter di depan Zizi.
“Aku cariin kamu kemana-mana, ternyata kamu disini,” Raihan bergumam. Sementara Zizi hanya mengangkat bahu, merespon datar dan melakukan lay-up. Kali ini bola justru melenceng, hanya memutar di bagian sisi ring namun terlempar keluar.
“Emang kenapa cariin aku? Hari ini bukan jadwal kamu main kan,” Sahutnya tanpa menatap ke arah Raihan sedikitpun. Zizi terus melakukan dribble, seolah bertindak tak seharusnya Raihan ada disini bersamanya.
“Memang bukan, aku cariin kamu bukan karna itu,”
“Terus?”
“Kamu udah makan belum? Ibu ngajak kamu makan di rumah. Tadi aku udah ke rumah kamu, nungguin kamu berapa menit tapi kamunya nggak pulang. Aku mau telfon tapi aku lupa kalo aku nggak punya nomer hp kamu,”Raihan mendesah.
“Kenapa kalian nggak makan duluan aja, aku bisa nyusul nanti,”
“Ayolah Zi, hari ini ibu masak banyak banget soalnya dia punya banyak pesenan. Kamu juga harus makan, emang kamu nggak tau kalo kita nggak boleh olahraga dalam keadaan perut kosong. Kamu pasti capek banget, ayo kita pulang, kasihan ibu dan Rena yang udah nunggu dari tadi,” Bujuk Raihan dengan nada memelas. Ingin rasanya Zizi melemparkan bola basketnya pada Raihan agar pria tersebut berhenti berbicara seperti itu padanya. Entah bagaimana bisa Raihan selalu terlihat polos dan sedikit menarik di matanya. Ya, hanya sedikit.
“Yaudah, ayo,” Ujar Zizi akhirnya. Ia melakukan ini karna tidak sudi melihat wajah Raihan yang memelas, sungguh menggelikan baginya. Zizi mengambil botol air minum yang dibawanya dari rumah lalu berjalan tanpa menunggu Raihan. Terpaksa Raihan yang berusaha mengimbangi langkah Zizi.
“Kamu datang kesana setiap hari?” Tanya Raihan memecah keheningan yang tiba-tiba menyelinap di antara dirinya dan Zizi. Gadis itu tak banyak bicara kali ini. Biasanya meskipun tidak bisa dibilang cerewet, Zizi punya banyak hal yang dapat dibicarakan ketika mereka sedang bersama. Baginya, Zizi memang teman mengobrol yang menyenangkan.
“Nggak juga, ini yang kedua kalinya,”
“Ohh, berarti kemarin kamu nggak kesana donk,”
“Kemarin aku di rumah kamu, masa kamu nggak inget,”Tandas Zizi. Raihan hanya menyeringai polos, lagi-lagi.
“Oh iya, kok aku bisa lupa ya,”
“Keseringan pacaran sih,” Zizi menyindir yang kontan membuat kening Raihan berkerut heran.
“Siapa yang pacaran?”
“Kamu lah, emang siapa lagi yang bicara sama aku sekarang,”
“Aku nggak pacaran,” Tukas Raihan secepat kilat. Kali ini Zizi sama sekali tak tampak menggodanya.
“Tadi di kelas yang disorakin sama anak-anak gara-gara kamu duduk berdua sama cewek itu apa? Siapa sih namanya? Putri ya?”
“Ohh, dia bukan cewek aku. Aku masih belum punya pacar,”
“Belum pernah pacaran?” Raihan mengangguk. Zizi membulatkan bibirnya membentuk huruf ‘o’ tanpa suara. Pantas kalo Raihan belum punya pacar di masa-masa seperti ini, cowok itu terlalu polos dan sedikit freak. Menyebalkan sekaligus menyenangkan. Tapi mungkin memang tak ada satupun wanita yang Raihan dekati selain Putri,”Kalo suka kenapa nggak ditembak aja?” Tutur Zizi tanpa basa-basi, dia memang membenci hal-hal yang tidak to the point.
“Siapa?”
“Putri, kalo kamu suka kenapa nggak kamu tembak, dia kayaknya juga suka sama kamu,”
“Kata siapa aku suka sama Putri?” Raihan berkilah, tapi Zizi dapat membaca ekspresi Raihan sama sekali tidak berkata demikian.
“Kamu nggak pinter bohong. Lagian tanpa kamu bilang apa-apa udah jelas banget kali. Anak-anak kayaknya juga bisa ngelihat, buktinya mereka heboh banget nyorakin kamu sama si Putri. Kenapa sih nggak ditembak aja?”
“Kamu jangan terlalu yakin,” Sanggah Raihan,”Belum tentu aku bener-bener suka sama Putri, kami hanya dekat. Tapi kayaknya aku nggak akan pernah nembak Putri,”
Zizi menoleh ke arah Raihan dengan kening berkerut, cowok itu tengah mengarahkan matanya ke depan, melirik Zizi sekilas lalu mengalihkan pandangannya kembali,” Kenapa?” Zizi mencecar.
“Karna Putri sudah punya pacar,”
Lantas Zizi mengangkat kepanya, keningnya berkerut bingung,”Kamu tau Putri punya pacar tapi kenapa kamu masih deketin dia?”
“ Aku nggak berusaha untuk dekat dengan Putri, kami yang dekat dengan sendirinya. Aku tau kalo Putri punya pacar bahkan sebelum kami sedekat ini,”
“Oh ya, apa perasaan kamu nggak sakit ketika kamu dekat dengan seseorang tapi orang itu justru milik orang lain,” Ucap Zizi setengah bergumam.
Raihan menoleh dan tersenyum masam,”Apa itu penting?” Sahutnya,”Oh ya, aku belum punya nomer hp kamu, boleh minta kan?”
Zizi balas menoleh ke arah Raihan, lalu mengambil hp cowok itu yang disodorkan padanya.
*****
(ruby adawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...