Rabu, 17 Juni 2015

Back to Rain Part 9



SEMBILAN

Luka lama itu, apakah masih menganga??

“Jadi gitu caranya,” Tutur Zizi setelah membantu mengerjakan satu soal yang cukup sulit bagi Raihan. Kedua mengangkat kepala, dilihatnya Raihan tengah membaca kembali jawaban yang dituliskan oleh Zizi sembari mengangguk-ngangguk mengerti. Malam ini mereka ada di teras rumah Bi Siti, belajar bersama untuk pertama kalinya sebagai tetangga. Setelah tadi makan sore di rumah ini  Zizi pun segera kembali ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian lalu kembali kesini lagi karna ia berjanji mengajari Rena bermain gitar, tapi ujung-ujungnya ia juga ikut mengerjakan PR bersama Raihan. Sebenarnya kemampuan Raihan cukup lumayan di bidang akademik, tapi sebagai murid baru Zizi justru menunjukkan kemampuannya yang lebih daripada yang lain. Dan hal itu dimanfaatkan Raihan dengan baik sebab gadis itu tak gampang memberi contekan jika ada PR, lagipula Zizi telah selesai mengerjakan soal-soal matematika tersebut sebelumnya begitu ia pulang sekolah, jadi ia tak punya kesibukan malam ini.
“Udah ngerti kan?” Tanya Zizi memastikan.
Raihan mengangguk-nganggukkan kepalanya tanda mengiyakan,”Ternyata gampang juga ya. Hebat kamu,”
“Apanya yang hebat. Kamu aja yang nggak ngerti,”
“Nggak kok, menurut aku kamu hebat, aku aja sampe harus ngehabisin kertas satu lembar untuk jawab soal ini tapi masih juga nggak dapet jawabannya. Tapi kamu malah secepat ini ngerjain. Gimana sih Zi biar bisa pintar kayak kamu?”
Zizi menyeringai,”Basi tau nggak pertanyaannya. Kenapa kamu tanya sama aku, kamu tanya aja sama diri kamu sendiri kenapa kamu nggak pintar,” Tandasnya dengan suara sama sekali tidak ramah.
“Karna jawabannya sama aja. Tapi kata anak-anak di kelas aku lumayan pintar, bedanya kamu justru lebih pintar. Heran deh, kenapa tuhan harus kasih kelebihan yang nggak adil. Padahal kan rasanya nggak enak kalo ada orang yang jauh berlipat-lipat lebih baik daripada kita,”
“Kamu ngomong apa sih? Setiap orang beda itu karna usahanya juga beda,” Zizi menimpali, menghentikan ucapan Raihan yang menurutnya hanya omong kosong. Ia sepenuhnya percaya bahwa usaha tidak akan menghianati hasil. Meskipun di dunia ini ada empat jenis manusia. Manusia yang erlahir beruntung namun hidupnya berkata senaliknya, orang yang terlahir tidak beruntung tapi dikehidupannya ia memiliki banyak keberuntungan, orang yang lahir beruntung dan mati beruntung, dan orang yang tidak terlahir beruntung matipun juga demikian. Tapi semua tergantung prespektif manusia bagaimana mereka akan membawa hidup masing-masing.
“Aku juga berpikir kayak gitu. Tapi Zizi kamu bener-bener beruntung, kamu pintar, kaya dan berbakat, kamu harus banyak bersyukur. Seandainya aku bisa seberuntung kamu, meskipun begitu aku juga udah merasa nyaman dengan hidupku yang sekarang,”
“Apa sih,” Zizi mendengus. Ia mendengar suasana yang tenang tiba-tiba mendadak gaduh oleh suara hujan yang semakin lama kian deras. Raihan bahkan harus mengamankan buku-bukunya agar tidak terkena cipratan air hujan.
“Hujan, masuk yuk Zi,”
Zizi mengangguk dan mengikuti Raihan masuk ke dalam rumah. Malam ini benar-benar dingin bahkan meskipun Raihan mengunci pintu serta jendela rapat-rapat. Jaket yang digunakan Zizi pun juga tak banyak membantu, ia tetap melipat kedua tangannya untuk melindungi tubuhnya dari cuaca yang dingin. Bi Siti yang sedang menonton sinetron sontak mematikan TVnya karna mendadak ada petir yang cukup keras. Untung saja Zizi tak terlalu takut dengan suara petir, sehingga ia tidak perlu melompat ke arah Raihan dan berlindung di pelukan pria itu seperti adegan di sinetron yang suka Bi Siti tonton.
“Kamu dingin? Mau aku ambilkan selimut?” Tawar Raihan yang melihat Zizi berusaha untuk tidak menggigil dengan melindungi tubuhnya sendiri menggunakan kedua tangan. Kaki gadis itu bahkan diangkat ke atas kursi, duduk bersila sebab ia juga menyadari udara malam ini sungguh dingin bahkan untuk dirinya yang telah memakai jaket tebal.
Zizi menggeleng,”Nggak usah, aku masih kuat kok,”
“Tapi lebih baik kalo kamu hangat daripada kamu berusaha nahan tubuh kamu supaya nggak menggigil di depan aku,”
Zizi hendak membantah, tapi Raihan sudah buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan keluar dengan membawa dua selimut. Lalu diberikannya satu selimut itu kepada Zizi yang menyadari bahwa selimut yang tengah dipegangnya adalah selimut yang dipinjamkan Raihan beberapa waktu lalu padanya, ketika ia menginap di rumah ini.
“Gimana? Mendingan kan?” Tanya Raihan begitu melihat posisi Zizi yang tidak terlalu mengerikan seperti tadi, gadis itu tengah membalut seluruh tubuhnya di bawah selimut. ”Biasanya kalo lagi hujan-hujan gini aku langsung ke kamar, tidur sampe seluruh badanku ditutupi selimut. Dan rasanya lebih enak daripada cuma minum teh dengan gorengan hangat di depan televisi,”
“Bukannya justru keliatan seperti orang demam?” Zizi menyahut.
“Bedanya dengan begitu aku bisa tidur nyaman tanpa harus ngerasa panas,” Timpal Raihan gemas,”Lagian kan ada kamu, masa aku mau ngajakin kamu tidur sekalian,”
Zizi memandang Raihan sinis yang langsung disambut tawa oleh pria itu dengan eskspresi tanpa dosa,”Kamu harus coba membiasakan minum teh dan gorengan hangat lain kali,” Desisnya. Suasana hening sejenak,tak ada yang bersuara di antara keduanya. Yang terdengar hanyalah bunyi hujan yang turun memberontak di luar rumah.
“Kamu udah punya pacar?” Raihan tiba-tiba membukan suara. Zizi mengangkat kepalanya, mendapati Raihan yang juga tengah menunggu jawaban.
Zizi menghela napas panjang lalu menggeleng,”Nggak ada,”
“Pernah pacaran?”
“Satu kali,” Lirih Zizi. Raihan tak bertanya lagi selama beberapa saat, Zizi juga tak berniat melanjutkan jawabannya. Ada banyak hal pahit yang selalu diingatnya tiap kali cerita itu diungkit.
“Kamu bisa cerita sama aku tentang mantan pacar kamu itu,” Ujar Raihan, Zizi menatap Raihan datar.
“Apa harus?”
Raihan mengangkat bahu,”Daripada nggak ada yang bisa kita bicarakan. Lagipula sepertinya kamu butuh teman berbagi tentang mantan pacar kamu itu,”
Cukup lama Zizi terdiam sebelum akhirnya ia menghela napas kembali, dan kali ini lebih panjang,”Dia sahabat abangku. Aku kenal dia sejak aku masuk SMP, saat itu dia sudah duduk di kelas tiga karna kami memang beda dua tahun. Awalnya kami hanya dekat, aku masih belum mengerti apa itu cinta, apa itu pacaran. Aku masih terlalu polos untuk mengenal perasaan seperti itu. Dia baik, selalu ngebantu aku tiap kali aku dijahilin sama abang, mengajari aku banyak hal. Dia juga orang pertama yang aku kagumi, pintar, ramah, lembut, jago main basket, fotografi dan main piano, dia punya banyak hal yang bisa bikin wanita jatuh hati, tapi dia nggak terlalu menonjolkannya, itu yang bikin aku suka. Aku nggak tau kenapa dia bisa begitu mengerti aku, bisa memperlakukan aku dengan sangat baik, dia selalu bisa buat aku ngerasa nyaman dan aman di saat bersamaan. Hingga begitu aku masuk SMA, dia mengungkapkan perasaannya yang lebih dari seorang kakak sama aku. Aku kaget banget sampai-sampai aku nggak bisa tidur semalaman, kami sudah terbiasa seperti itu dan aku nggak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini sebelumnya,”
Suara Zizi tercekat sejenak, lalu menghembuskan napas sembari mengusap wajah dengan kedua tangannya. Raihan kira Zizi akan menangis, tapi justru gadis itu tersenyum manis,”Aku nggak menyadari awalnya, bahwa ternyata aku cukup senang dengan ungkapan itu. Keluarga kami sudah mengenal dia dengan baik, aku juga sangat bahagia saat-saat dimana dia ada di tengah-tengah kami. Akhirnya aku terima perasaannya, kami pacaran, setidaknya setelah dia berkata jujur tentang perasaannya, aku baru bisa merasakan apa itu kasmaran,” 
Wajah Zizi terlihat tenang begitu ia mengakhiri ucapannya, tadi gadis itu tersenyum membuat Raihan bisa merasakan bagaimana bahagianya Zizi saat menyukai pria tersebut. Pria yang entah menurut padangannya juga termasuk pria baik-baik seperti yang Zizi ceritakan,”Kalo gitu kenapa kalian bisa putus?” Tanyanya.
Helaan ketiga dari Zizi itu tertangkap jelas oleh Raihan, gadis tersebut memutar kedua bola matanya lalu menatap ke arah yang sama kembali, seolah menerawang.
“Karna sebuah kecelakaan yang entah bisa terjadi begitu menyakitkan. Dia kehilangan kemampuannya untuk berjalan dan mengangkat benda-benda berat, gara-gara itu dia tidak bisa belajar berjalan menggunakan tongkat. Setidaknya ia harus bisa menyembuhkan tangannya terlebih dahulu supaya dia bisa menopang tubuhnya ketika belajar berjalan, dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku nggak tau bagaimana sakitnya ketika sebelumnya kita bisa melakukan banyak hal yang kita suka, tapi setelah itu semuanya bagaikan semu, jangankan untuk melakukannya, untuk melindungi diri sendiri saja nggak bisa. Dia yang merasakannya, dia selalu berputus asa tiap kali mengingat itu. Seharusnya aku nggak meninggalkan dia,seharusnya aku menjaga dia seperti yang dia lakukan sama aku dulu. Itu yang aku pikirkan. Tapi dia terlalu rendah diri, di waktu aku sangat ingin ada di sisinya, dia justru ingin aku meninggalkannya. Aku udah berusaha mencoba, tapi justru dia nggak mau bicara. Aku bingung, jadi aku melakukan apa yang dia mau,” Tutur Zizi dengan suara serak. Sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tidak jatuh lagi kali ini.
Raihan mengangkat tubuhnya dan menyandarkannya pada bahu kursi begitu Zizi benar-benar mengakhiri ceritanya. Ia tak melihat senyum itu lagi, pandangan Zizi menunduk,sulit baginya untuk tau apa yang gadis tersebut pikirkan.”Ini bukan salah kamu,” Ujarnya tiba-tiba.
Zizi mendesah,”Aku juga nggak merasa bersalah, aku cuma sedih ngeliat dia seperti itu. Dia bukan seperti seorang kakak yang aku kagumi dulu. Aku sedih karna nggak bisa bantu dia apapun,”
“Dia mungkin hanya butuh sendiri,”
“Dia butuh sembuh, tapi dia terlalu berputus asa untuk sadar kalo dia masih bisa sembuh,”
“Dia juga butuh waktu kan,” tutur Raihan menambahkan. Zizi hanya tersenyum kecil.
“Kayaknya hujannya udah nggak terlalu deras, aku pulang sekarang deh, boleh pinjam payung nggak?”
“Kamu udah mau pulang? Nggak menginap disini lagi?”
“Dan biarin kamu tidur di sofa sementara di luar hujan,” Zizi menggeleng seraya menyeringai kecil,”Kamu bisa tidur nyenyak malam ini di kamar kamu, aku juga lebih baik tidur di kamar aku sendiri,”
“Ooh ya? Bukan untuk sendirian nangis di kamar kan?”
“Apaan sih. Aku nggak secengeng itu lagi,” Sanggah Zizi cepat yang membuat Raihan tersenyum sembari menunjukkan sederetan gigi putihnya.
“Yaudah, mending kamu pamit sama ibu dulu gih, biar aku ambil payung,”
Butuh waktu beberapa menit untuk meyakinkan Bi Siti bahwa ia baik-baik saja tidur di rumahnya malam ini. Tidak ada bedanya meskipun di luar hujan, atap rumahnya tidak bocor, Zizi tidak perlu khawatir kedinginan. Justru Zizi tidak nyaman jika sering-sering menumpang tidur di rumah Bi Siti, Raihan pasti selalu mengorbankan tempat tidurnya untuk ia tempati. Kedua anak dan ibu ini memang sangat baik, Zizi tidak tau bagaimana membalasnya jika ia sudah kembali ke Jakarta nantinya.
“Yuk Zi,”Ajak Raihan yang membawa payung di tangannya.
“Ayuk? Aku cuma mau pinjem payung doang kali,” Sergah Zizi heran.
“Biar aku anterin aja, sekarang kan udah jam sembilan, udah terlalu malam, bahaya,”
“Ntar kamu basah lagi, rumah aku cuma di sebelah kok, aku sama sekali nggak takut pulang sendirian, nggak bakal ada apa-apa,”
“Nggak papa Zi, biar Raihan anterin kamu aja. Buat jaga-jaga, takutnya ada apa-apa,” Sahut Bi Siti yang duduk tak jauh dari ruang tamu.
Zizi dan Raihan menoleh sejenak, hingga akhirnya keduanya bersitatap,”Tuh, ibu aja nyuruh. Biar aku anterin, lagian cuma di sebelah aja kok, aku nggak ngerasa repot sama sekali,” Tutur Raihan yang seolah bisa membaca isi pikiran Zizi. Tanpa pikir panjang lagi Raihan membuka pintu rumahnya lalu memandang ke belakang, pada Zizi yang masih berdiri di ruang tamu,”Ayo,”
Meski sedikit keberatan Zizi tetap menurut, mau bagaimana lagi. Rumahnya bahkan ada tepat di sebelah rumah Raihan, ia bisa pulang dengan selamat walaupun tak menggunakan payung. Tapi lagi-lagi keluarga Bi Siti terlalu baik, ia sampai tak habis pikir. Keduanya berjalan pelan-pelan menuju rumah Zizi, Raihan memayungkannya sementara tangan Zizi sibuk mengangkat celananya sampai di bawah lutut agar tidak kecipratan air hujan.
“Ini pertama kalinya aku jalan di bawah hujan berdua dengan seorang cewek,” Raihan tiba-tiba bergumam, membuat Zizi melirik sekilas ke arah cowok itu.
“ Emang sama Rena nggak pernah?”
Raihan tersenyum,”Maksud aku sama cewek selain keluarga aku sendiri,”
“Aku juga nggak pernah, ini yang pertama kalinya aku ada di bawah hujan berdua dengan seorang cowok kecuali keluarga aku sendiri. Pernah sih beberapa kali, tapi sama anak kecil cowok tukang ojek payung,”
“Ojek payung nggak masuk hitungan disini. Emang kamu nggak pernah kayak gini sama mantan pacar kamu?”
“Seingat aku nggak. Kalaupun pernah itu bertiga sama bang Reza, abangku memang selalu jadi parasit dalam hubungan kami kalau dia lagi nggak punya cewek. Maklum kan, pacarku itu sahabat paling dekatnya abang,”
“Oh ya, aku juga udah dengar tentang kematian abang kamu dua bulan yang lalu, aku turut berduka cita,”
Zizi tersenyum masam, tapi tak menjawab.
“Makasih ya udah dianterin,” Ucap Zizi begitu dia dan Raihan sampai di teras rumahnya.
“Iya sama-sama. Aku pulang dulu ya Zi, aku juga mau tidur,” Pamit Raihan,”Dan.., jangan nangis malam ini,”
Kaki Zizi tercekat sementara bibirnya hendak menyahut namun kata-kata yang ingin ia keluarkan justru menguap bagai buih. “Memangnya kenapa kalo aku nangis?” Tutur Zizi akhirnya dengan suara mencicit.
Raihan mengangkat bahu,”Mungkin karna nggak ada seseorang seperti aku yang bisa menghibur kamu nantinya,” Sahutnya, lalu pergi meninggalkan Zizi yang masih berdiri di tempatnya.
*****
(rubyadawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...