Minggu, 31 Mei 2015

Back to Rain Part 7



TUJUH



Ada hal aneh yang aku rasakan, saat kau dengan gadis itu....
Hanya satu jam keduanya bermain basket, tepatnya Zizi yang mengajari Raihan beberapa teknik dalam permainan bola basket. Pria itu benar-benar tidak berbakat di permainan ini. Baru satu teknik kecil Zizi butuh waktu satu jam untuk membuat Raihan menjadi bisa, bukan jago, tapi hanya bisa. Ia rasa butuh beberapa jam lagi supaya Raihan sedikit mahir melakukannya dan itu pasti membutuhkan energy yang cukup banyak.
Jam sedang menunjukkan pukul 16.30 saat keduanya berpisah di pagar rumah Zizi. Raihan lantas segera kembali ke rumahnya dan Zizi juga tak mampir dulu ke rumah Raihan. Sudah cukup untuk hari ini mereka bersama, sebab selanjutnya di teras rumah Raihan ada seorang wanita yang tengah menunggu si pemilik rumah. Tadi gadis itu sedang memainkan hpnya ketika Raihan dan Zizi berpisah jalan sehingga tak melihat keduanya yang akhir-akhir ini tampak begitu akrab.
“Putri?” Seru Raihan heran. Gadis yang dipanggil Putri tersebut sarat tersenyum ketika Raihan menghampirinya dengan senyuman.”Kamu kok ada disini? Sejak kapan?” Tanyanya.
“Baru aja. Beberapa menit yang lalu,” Ujar Putri menambahkan.
“Kamu kenapa nggak masuk? Ibu nggak ada di rumah ya?” Raihan melongokkan kepala ke dalam pintu rumahnya yang terbuka, tidak mungkin rumahnya kosong jika jam segini.
“Ada kok, aku aja yang ingin nungguin kamu disini. Lagian aku nggak akan lama. Kamu habis dari mana?” Tutur Putri saat melihat tubuh kurus Raihan yang tertutupi kaos oblong basah terkena keringat.    
“Ohh, habis main basket tadi di lapangan dekat-dekat sini,”
Kening Putri berkerut, matanya beralih pada tangan Raihan yang sedang memegang bola volli. Apa mungkin Raihan sedang berlatih basket untuk penilaian olahraga selanjutnya dengan menggunakan bola voli? mengingat pria ini tidak memiliki bola basket karena memang bukan pemain basket. Tentu saja Putri heran, tetapi ia memilih untuk tidak bertanya.
“Gitu, pentesan kamu keringetan, kayaknya capek banget,”
Raihan hanya menyeringai kecil saat Putri menyinggung tentang keringatnya, tanpa basa-basi ia langsung mencium bau badannya untuk memastikan badannya tidak memunculkan bau-bau tidak sedap, sembari setelah itu ia menyeka keringat yang mengalir di dahinya.
“Aku nggak bau kan?” Tanya Raihan yang sedikit tidak yakin dengan indra penciumannya sendiri, pasalnya ia memang type anak yang ‘nggak enakan’ sama orang, apalagi sama Putri.
“Nggak kok,”
“Syukur deh kalo gitu, malu kali ada cewek datang tapi aku sendiri malah bau,” Raihan mencoba menggombal. Putri hanya tersenyum geli, pria di hadapannya ini selalu bisa menghiburnya dalam keadaan apapun.
“Mana ada orang malu bilang,”
“Ada, buktinya aku,” Sahut Raihan cepat, membuat Putri tersenyum lagi,”Masuk dulu yuk, minum-minum dulu, aku kan udah datang,”
“Nggak usah ah, makasih. Aku kesini nggak lama kok, cuma mau kembaliin ini,” Putri mengambil sebuah buku dari dalam tas kecilnya, lalu menyerahkannya pada Raihan. ”Makasih karna udah pinjemin catatannya,”
“Ya ampun Put,kamu kan bisa kembaliin ini besok.Kenapa sampe jauh-jauh kesini sih,”
“Takut kelupaan.Lusa kan ada PR PKN, banyak lagi. Kalo kamu kerjain besok nanti malah nggak selesai, jadinya aku kembaliin sekarang aja,”
“Aku ngerepotin donk kalo kayak gitu,” Gumam Raihan lembut.
“Nggak lah, tadi sekalian aku beliin titipannya mama yang dijual deket-deket sini,”
“Ohh, terus kamu pulang naik apa?”
“Angkot,”
“Angkot? Jam segini mana ada angkot, udah hampir jam lima. Biasanya angkot disini banyak yang balik kalo udah jam empat. Naik bus nanti nunggunya lama, ntar kamu pulang kemaleman lagi. Kamu masuk dulu aja deh, aku anterin kamu pulang,”
“Nggak usah Han, kamu kayaknya capek gitu habis olahraga. Aku langsung pulang aja deh,” Tolak Putri halus.
“Nggak bisa gitu, bahaya buat cewek pulang sendirian jam segini. Kamu masuk dulu gih, aku ganti baju dulu, biar aku yang anterin kamu pulang,” Raihan menyanggah. Baginya wanita adalah sebuah tanggung jawab, hidup berdua selama beberapa tahun tanpa ayah membuatnya mengerti banyak hal tentang peran seorang kepala rumah tangga. Dan selama ini prinsipnya sebagai pria pelindung keluarga selalu dibawanya dalam keadaan apapun.
Putri hanya pasrah saat Raihan membawanya untuk duduk di dalam ruang tamu. Pria ini selalu begitu, membuatnya terkesan walau terkadang cukup membingungkan.
*****
Entah mengapa kaca jendela ruang tamu yang biasa menampilkan halaman dan teras rumah Bi Siti itu tiba-tiba menjadi pemandangan yang membuat Zizi penasaran. Awalnya Zizi hanya ingin melihat Raihan telah masuk ke dalam rumahnya atau tidak, tapi nyatanya pria itu justru tersendat langkahnya di teras lantaran ada seorang wanita yang menunggunya. Zizi tidak melihat jelas seperti apa wajah wanita tersebut karena punggung Raihan menutupi penglihatannya. Tapi dari penampilan sekilas yang Zizi lihat, wanita yang sedang bersama Raihan itu cukup cantik. Rambut hitam panjang, kulit putih dan gaya penampilannya yang menunjukkan bahwa dia benar-benar wanita feminim, dengan blouse putih simple yang dipadu sweeter pink juga rok selutut bermotif bunga-bunga cantik. Dan Zizi belum sadar bahwa dia terus berdiri selama Raihan bersama gadis itu masih berdiri disana.
Mereka mengobrol cukup lama, beberapa kali Zizi lihat siulet keduanya yang tengah tersenyum. Meski Zizi tak bisa melihat wajah mereka, tapi dari bahasa tubuh mereka tentu Zizi mengerti bagaimana gerak-gerik seseorang ketika berhadapan dengan orang yang spesial. Beberapa saat kemudian, Raihan dan gadis tersebut masuk ke dalam rumah sehingga objek yang dilihat Zizi juga menghilang sepenuhnya. Tanpa sadar Zizi mendesah, dia lantas menggeleng, menghembuskan napas dan berlalu dari jendela ruang tamunya. Tak ada yang bisa ia lihat sekarang.
*****
Zizi menghempaskan tubuhnya pada kursi kayu tempatnya duduk selama di kelas. Bel tanda masuk baru saja berbunyi ketika Zizi kembali dari kantin tadi, sekarang hanya tinggal menunggu guru untuk pelajaran selanjutnya. Dan hal itu tak lantas membuat para siswa segera masuk ke dalam kelas kecuali jika guru pengajar mereka memang benar-benar hadir.
“Sekarang pelajaran apa, Ris?” Tanya Zizi pada gadis di belakangnya. Selama ia di kelas ini teman-teman terdekat yang sering mengobrol dengan Zizi ada di belakang dan depan bangkunya. Sementara teman sebangkunya sendiri, ia tidak yakin untuk mengbrol banyak. Tapi Zizi tetap berteman baik dengan Ita, bahkan seringkali ia mengajak Ita ke kantin, toilet, atau banyak tempat di sekolah ini karna Ita orangnya tak banyak membantah. Ia juga lebih memilih berdiskusi bersama Ita tentang pelajaran karna tampaknya Ita cukup intelektual, gadis itu hanya tak pandai bersosialisasi karna pada dasarnya Ita termasuk orang yang berbakat dalam kaca mata Zizi. Sementara Riski, Feby, serta Fitri yang ada di belakang dan depan bangkunya selalu menjadi teman mengobrol yang menyenangkan bagi Zizi. Dari ketiganya, yang menggunakan kerudung hanya Riski, namun yang paling pintar Fitri, dia satu-satunya yang duduk di depan Zizi. Sedangkan Feby, entahlah Zizi kurang yakin dengan temannya yang satu ini, akan tetapi Feby termasuk anak yang jago hampir di semua bidang olahraga.
“Biologi,” Jawab Riski sembari mengeluarkan buku tentang agama dari dalam tasnya.
“Kok yang dibaca buku agama sih?” Zizi berujar polos. Padahal jelas-jelas ia tau bahwa Riski type anak yang sholehah. Sama seperti Zizi yang suka membaca buku, bedanya yang Riski baca melulu buku-buku yang berkaitan dengan agama. Sementara Zizi membuka pikirannya untuk semua wawasan,termasuk novel-novel remaja. “Sekarang kan pelajaran Biologi Ris, mending tutup deh bukunya,” Zizi sengaja berpura-pura menutup-nutupi halaman yang dibaca Riski dengan kedua tangannya.
“Aduh pusing mikirin Biologi mulu,” Timpal Riski seraya menarik bukunya dari gangguan tangan Zizi,”Mending baca kayak gini biar kita dapat pencerahan,”
“Ceilaa, pencerahan. Amin deh,”
“Cieee…Cieee…,” Serempak suara anak-anak di kelas ini yang lalu mengalihkan perhatian Zizi, Riski, Ita serta anak-anak lain yang masih ketinggalan dengan suatu hal yang membuat heboh itu.
Zizi tidak mengerti apa yang mereka teriakkan, tetapi ia melihat Raihan disana dengan seorang wanita yang juga termasuk anak kelas ini sedang duduk berdekatan di satu meja nomer dua paling belakang, tidak terlalu jauh dari tempat Zizi. Keduanya hanya tersenyum malu-malu saat anak-anak yang lain menyoraki mereka. Raihan tampak sedikit menyanggah begitupun gadis yang ada di sampingnya, gadis cantik berambut hitam panjang itu menutup mulutnya kemudian kembali ke bangkunya sendiri. Raihan pun ikut-ikutan kembali ke bangkunya sedangkan anak-anak tetap menggodanya sembari tertawa kecil.
Mata Zizi menatap bergantian pada Raihan dan gadis itu. Dia satu-satunya yang tidak tertawa karna tidak mengerti apa yang tengah terjadi antara keduanya. Dia masih baru, banyak hal di sekolah ini yang berlalu tanpa dirinya. Zizi hanya mengikuti instingnya yang mengatakan bahwa ada sesuatu tentang Raihan dan gadis cantik tersebut yang ia yakin telah terbaca oleh seluruh anak di kelas ini, seperti sesuatu yang special, seperti senang satu sama lain. Sulit untuk mendeskripsikan seperti apa sesuatu itu, yang jelas tak ada hal lain yang membuat seseorang tersipu sebegitu manisnya sebagaimana yang dilakukan sebuah perasaan bernama ‘suka’.
Zizi menoleh pada Riski yang kembali berkutat dengan buku ditangannya, dan dilihat dari wajahnya, Riski juga tampak tersenyum geli karna kejadian tadi. Akhirnya tak tahan Zizi pun bertanya.
“Mereka pacaran?” Dua kata yang keluar dari mulutnya itu terdengar menyebalkan di telinganya sendiri. Ia heran, kalau memang Raihan dan gadis itu pacaran untuk apa anak sekelas heboh menyorakinya. Apa jangan-jangan pacaran juga menjadi hal yang langka di sekolah ini.
Riski menggeleng,”Nggak,”
“Lagi PDKT ya?”
“Nggak juga deh kayaknya,”
“Terus kenapa disorakin?” Zizi mencecar.
“Tau deh, mereka seperti saling suka gitu, tapi mungkin malu untuk ngungkapin,”
Zizi terdiam, lalu melihat ke arah Raihan serta gadis itu lagi secara bergantian.”Yang cewek siapa sih namanya?”
“Siapa? Yang tadi sama Raihan?” Zizi mengangguk,”Putri,”
*****
(ruby adawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...