Kamis, 21 Mei 2015

Back to Rain Part 6



LIMA

Aku, kamu dan lapangan ini

Untuk yang ke dua puluh kalinya Zizi memasukkan bola basket ke dalam ring sebelum akhirnya pak Candra meniup peluit tanda penilaian untuk Zizi sudah berakhir. Cukup mudah bagi Zizi jika hanya memasukkan bola dalam satu menit di jarak tiga point karna ia sudah terbiasa bermain basket, dan di sekolahnya yang lama ia pun juga masuk dalam eskul basket. Zizi pun duduk di antara teman-temannya sembari menonton bagian cowok yang akan memulai penilaian mereka. Tidak banyak dari anak-anak cowok di kelasnya yang bisa bermain basket, sebagian besar dari mereka hanya mencoba memasukkan tanpa ada teknik, Berbanding terbalik dengan anak-anak cewek di kelasnya yang memang ada beberapa orang mengikuti eskul basket. Ditambah dirinya yang walau tidak mengikuti eskul basket di sekolah ini, ia cukup mahir memainkan permainan tersebut.
Zizi terus menonton sambil sesekali bergurau bersama teman-temannya, ia senang dirinya sudah bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman barunya kini. Awalnya Zizi merasa sedikit kesulitan, tapi perlahan ia mulai mengenal setiap kebiasaan suasana sekolah serta anak-anak yang ada di dalamnya meskipun keadaannya agak berbeda dengan kehidupannya di Jakarta. Tapi perlahan ini semakin mudah setelah ia mengenal beberapa anak yang nyaman diajaknya bicara dan menjadi teman baiknya.
Anak-anak cowok terus bergantian melakukan penilaian sesuai urutan absen. Dan setelah lima belas anak, tiba giliran Raihan yang harus memasukkan bola ke dalam ring selama satu menit. Saat itu juga seolah ada yang menarik Zizi untuk langsung memfokuskan penglihatannya pada pria itu, ia ingin seberapa besar kemampuan  Raihan dalam permainan ini. Mungkin sejak Raihan membantunya membetulkan lampu kamarnya yang mati, pria itu telah memunculkan satu sisi yang membuat Zizi nyaman berteman dengannya sehingga sekarang entah mengapa Zizi memandang Raihan dengan cara yang berbeda. Sejauh ini Raihan lah teman pria terdekatnya, pria pertama yang akrab dengannya sewaktu Zizi pindah sekolah dan tempat tinggal.
Beberapa bola memang masuk ring, namun tidak banyak. Kira-kira hanya lima kali Raihan berhasil memasukkan bolanya. Zizi tertawa kecil saat Raihan bertindak bodoh lagi dengan memasukkan bola di jarak satu point begitu peluit berakhirnya waktu dibunyikan oleh pak Candra. Raihan nyatanya terlihat sama saja, polos dan sedikit freak. Pria itu tidak bisa bermain basket, Zizi bisa melihat tekniknya yang berantakan karna memang Raihan memasukkannya hanya asal-asalan saja. Tapi tadi sempat Zizi lihat pria tersebut cukup pandai menggocek bola untuk dimasukkan ke dalam gawang, Raihan juga tampak baik dalam permainan bola Voli, namun tidak dengan bola basket.
“Aku nggak tau kalo kamu bisa main basket,”Ujar Raihan yang tiba-tiba saja ada di samping Zizi. Pria itu tengah meletakkan kedua tangannya di belakang sebagai penyangga tubuh selagi kakinya ia julurkan ke depan.
“Aku pemain basket,” Jawab Zizi santai.
“Pantes kalo gitu, aku kira kamu seorang vokalis,”
“Aku juga vokalis, dulu aku punya band, kayak band sekolah gitu, dan aku jadi vokalisnya,”
“Oh ya?  Aku aja nggak bisa kedua-duanya,” Sahut Raihan yang telah menegakkan tubuhnya seraya menekuk lututnya.
“Setiap orang punya bakatnya masing-masing,” Tutur Zizi sekenanya.
“Tapi kamu ngeborong banyak bakat,”
Mendengar asumsi Raihan yang semakin lama terdengar konyol, Zizi lantas tertawa kecil,”Kata siapa? Aku justru nggak bisa main voli, tapi tadi aku lihat kamu bisa bermain dengan baik,”
“Memang, karna aku suka Voli,”
“Aku nggak suka, jadi aku nggak bisa. Mungkin karna kamu juga nggak suka basket makanya kamu nggak bisa main basket,”
“Sepertinya begitu. Tapi semester ini sebagian besar penilannya tentang basket, teknik lay up atau apalah itu namanya. Jarang banget ada penilaian bola Voli,” Ucap Raihan mengambang, tampaknya ia berbicara sambil berpikir. Matanya menatap ke depan pada anak cowok bertubuh gempal yang kesulitan memasukkan bola lantaran bobotnya yang berlebihan. Ia tertawa geli, anak-anak lainnya pun demikian.
“Itu siapa sih namanya?” Zizi bertanya.
“Genta, dia juga pemain voli,”
Zizi mengangguk-nganggukkan kepalanya sembari terus tertawa karna jangankan untuk memasukkan bola, mengambil bola saja Genta seperti sedang lari marathon.
“Dia jago dalam permainan bola voli, tapi mungkin karna berat badannya, Genta jadi cepat lelah,” Raihan bergumam.
“Aku nggak pernah tertarik dengan permainan bola Voli, tapi kalo cuma untuk belajar boleh lah,”
“Aku suka main bola voli setiap minggu atau sabtu sore di lapangan dekat kompleks,”
“Aku juga sering main bola basket di rumah, tapi kalo disini aku nggak tau deh harus main dimana,”
“Kamu juga bisa ikut main disana, tempat yang aku gunain itu sebenarnya lapangan serba guna,” Ujar Raihan memberi usul, membuat mata Zizi berbinar senang. Setidaknya ia punya kesibukan selama ia sedang sendiri di rumah.
“Oh ya, boleh tuh. Sekalian donk kamu belajar main basket, biar pas penilaian nggak buruk-buruk banget,”
Raihan ikut-ikutan tersenyum senang,”Beneran?” Tanyanya memastikan, Zizi mengangguk, ”Boleh deh,”
Keduanya kembali menghadap ke arah lapangan, pada tiang basket yang berdiri tegak dan tepat di sebelahnya Genta tengah terbaring lemah nyaris semaput.
*****
“Ini lapangannya?” Tanya Zizi sembari berkeliling memandangi area sekitar lapangan yang diceritahan Raihan dua hari yang lalu. Tidak terlalu buruk, lapangan ini ada di sebelah barat kompleks paling ujung, dan untuk mengunjunginya harus melewati beberapa gang yang sebenarnya tidak jauh dari rumah Zizi, hanya saja ia belum mengetahuinya. Di dua sisi yang menjadi lebar lapangan terdapat dua tiang basket yang berhadapan, sekian meter setelah garis area bermain basket ada net bola voli yang bisa dibongkar pasang kapan saja, di sebelah tempat bermain bola voli ada area bulu tangkis, lalu di kedua sisi yang berhadapan dengan panjang lapangan terdapat dua gawang untuk bermain futsal. Benar-benar lapangan serbaguna, hampir sama seperti lapangan di SMA Cikal Bangsa. Bedanya lapangan di sekolahnya lebih bersih karna dikelilingi oleh kelas-kelas juga sedikit lebih luas, sementara disini dikelilingi oleh tanah berumput, meski setelah itu ada jalan yang menghubungkan dengan rumah-rumah.
“Iya, kenapa? Jelek ya?”
“Nggak juga, lumayan lah daripada nggak ada sama sekali,”
Raihan memantul-mantulkan bola volinya ke bawah sembari menghirup udara segar yang sore itu tampak mendukung kegiatannya. Sebenarnya sore ini udaranya terasa dingin, tapi setelah berkeringat nanti tidak akan terasa dinginnya. Mungkin nanti malam hujan, meskipun langit tak sedang mendung namun tak ada matahari yang terlalu menyengat kali ini.
“Biasanya banyak anak yang main bola disini setiap minggu pagi, dan malamnya biasanya dipake sama bapak-bapak yang suka main badminton. Jadi aku selalu kesini setiap sore karna lapangan selalu sepi,” Ujarnya bergumam.
“Kamu main sama siapa donk kalo disini sepi?”
“Para penggemar voli yang jadi kelompok aku selalu punya jadwal khusus supaya kita bisa main bareng, hari minggu dan sabtu sore kita biasanya main,”
“Ohh, berarti aku harus bikin jadwal lain donk kalo aku mau main basket disini, kalian kan udah punya waktu masing-masing,”
“Kamu cuma sendirian kenapa harus bikin jadwal khusus. Tempat voli dan basket kan beda, permainan kamu nggak akan ganggu kami,” Tukas Raihan.
“Bisa aja kalian yang ganggu aku, lihat donk, lapangan basket dan voli sebelahan, bola kalian bisa secara nggak sengaja mantul ke kepala aku. Kalo udah gitu apanya yang gak ganggu,” Zizi menimpal protes.
Raihan tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju,”Bisa jadi sih,” Katanya.
Zizi tersenyum melihat wajah polos Raihan yang tengah memandangi bola volinya sendiri, padahal tadi ia hanya bercanda tapi mendadak wajah Raihan seolah merasa bersalah dan itu membuatnya tidak tahan untuk tidak melemparkan bola basket di tangannya pada Raihan yang belum siap. Pria itu keget hingga bola meleset dari tangkapannya dan menggelinding ke tanah.
“Ambil itu, sekarang jadwalku main,” Tutur Zizi tanpa merasa berdosa sedikitpun lalu meninggalkan Raihan yang tengah berdecak pelan.
*****
 (ruby adawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...