Senin, 18 Mei 2015

Back to Rain part 5



LIMA

Dan untuk pertama kalinya kita tertawa bersama........

Tadinya Raihan hendak mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkan seseorang di dalam, tapi ia mengurungkan niatnya lantaran takut mengganggu. Ia tidak tau kebiasaan Zizi pagi-pagi begini, dia hanya ingin mengajak gadis tersebut sholat subuh bersama seperti yang rutin dilakukannya bersama ibu dan adiknya. Waktu baru menunjukkan pukul lima pagi dan Zizi belum keluar dari kamar sama sekali. Akhirnya Raihan hanya mendesah lalu melenggang pergi dari depan pintu kamarnya untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Toh ibunya juga tidak mempermasalahkan Zizi sama sekali lalu untuk apa dia peduli.
Namun sepertinya ia tidak tahan juga menganggap gadis itu tidak ada di rumahnya, setidaknya ia mengingatkan Zizi agar segera menunaikan sholat daripada tidak sama sekali. Raihan baru saja akan mengetuk pintu ketika ibunya berseru memanggilnya.
“Zizi udah pulang jam setengah lima tadi,” Ujar Siti yang melihat anaknya berdiri di depan pintu kamar untuk yang kedua kalinya. Ia lupa untuk memberitahu Raihan.
“Udah pulang? Kok dia…,”
“Tadi Zizi pamit sama ibu, dia juga berterimakasih pada kamu karna sudah meminjamkan kamar. Tadi Ibu sudah suruh dia untuk tetap disini setidaknya sampai selesai sarapan, tapi katanya dia mau cepet-cepet ganti baju soalnya bajunya udah najis untuk dipakai sholat. Zizi juga mau langsung pergi jogging atau apalah itu namanya, lari pagi itu lho Han, makanya dia langsung pulang,” Jelas Siti.
Raihan terdiam lalu membuka pintu kamarnya,ternyata memang benar-benar kosong dan kamarnya sudah kembali rapi. Rupanya Zizi sudah bangun ketika dirinya masih tidur. Tapi seharusnya gadis itu mengatakan padanya sebelum pergi sehingga ia tidak perlu ragu mengetuk pintu kamarnya hingga dua kali. Entah mengapa ia justru merasa Zizi masih kesal dengannya sehingga menolak bicara. Raihan ingat percakapannya semalam pasti membuat Zizi kesal sampai sekarang. Mungkin seharusnya ia tidak perlu terlalu ikut campur dengan keputusan gadis itu.
*****
Raihan tengah berdiri di depan rumah Zizi ketika sang pemilik rumah kembali. Awalnya Zizi sempat bingung mengapa pria itu bisa ada disana sepagi ini. Tapi tampaknya Raihan memang berniat menemuinya karna begitu melihat Zizi pria itu langsung tersenyum, meski hanya senyuman kaku. Dilihat dari penampilannya Raihan memang bukan termasuk pria yang keren, terlalu kaku untuk bergaya. Begitu sederhana juga apa adanya, walau sebenarnya dia punya tampang yang lumayan meski belum bisa dikatakan tampan. Gaya fashionnya kurang menarik di mata Zizi dan tidak ada dalam daftar pria idola seperti yang Zizi pikirkan selama ini. Biarpun begitu, Raihan adalah sosok pria yang menyenangkan, polos, bertanggung jawab, sholeh dan sedikit freak, itu kira-kira yang  ada di pikiran Zizi selama ia mengenal sosok pria bernama Raihan.
Zizi segera menghampiri pria tersebut sembari memasang wajah bertanya-tanya.
 “Ada apa?” Tanya Zizi tanpa basa-basi.
“Aku kesini mau minta maaf,”
“Maaf? Untuk?”
“Karna semalam aku sudah buat kamu tersinggung. Seharusnya aku nggak mengatakan itu..,”
“Seharusnya kamu nggak terlalu jujur, mungkin seperti itu. Semalam kamu cuma mengatakan apa yang ada di pikiran kamu tanpa kamu proses terlebih dahulu.”Potong Zizi sebelum Raihan menyelesaikan kalimatnya. Dia nyaris tersedak melihat ekspresi polos Raihan yang merasa bersalah,’lucu’ singgungnya dalam hati.
”Kenapa kamu pikir aku tersinggung sampai-sampai kamu datang kesini untuk minta maaf, nggak takut pamali?” Sindir Zizi.
“Tadi kamu pulang begitu aja dari rumah, aku kira kamu masih marah gara-gara perdebatan kita semalam,”
“Aku sempat pamit kok sama Bi Siti, aku pikir Bi Siti akan bilang sama kamu jadi aku langsung pulang. Bukan masih marah, tapi karna aku udah nggak tahan pakai baju aku yang semalam, bau. Lagipula aku nggak akan bisa sholat kalau masih pake baju yang udah najis, iya kan? Percakapan kita semalem itu nggak usah dipikirin lagi. Aku rasa kamu ada benernya, aku memang kurang bersyukur dan terlalu mempermasalahkan suasana hidup aku. Kalo dipikir-pikir selama ini hidup aku nggak datar kok. Tapi bukan itu alasan satu-satunya aku pindah kesini,” Ujar Zizi sembari tersenyum, kemudian meneguk air putih yang sempat diletakkannya pada meja di teras rumah sebelum ia pergi jogging tadi.
“Justru aku berpikir alasan kamu itu mulai masuk akal. Manusia nggak akan pernah berubah sebelum ia memutuskan untuk berubah. Mungkin terdengar nekat ketika kamu memilih jauh dari orang tua kamu untuk tinggal disini sendirian, pindah sekolah, pindah lingkungan, itu pasti keputusan yang cukup berat. Tapi setidaknya kamu berusaha cari pengalaman yang akan menggembleng kamu agar bisa hidup mandiri, berbeda ketika kamu tinggal di Jakarta yang semuanya serba ada dan dilayani,” Raihan menimpali.
Zizi meletakkan botol minumannya kembali dan menatap Raihan sembari melipat kedua tangannya ke depan dada,” Kapan kamu berpikiran seperti itu?” Tanyanya dengan nada ingin tau.
“Setelah kita berdebat,”Sahut Raihan,”Aku biasanya memang bisa berpikir jernih setelah aku melakukan kesalahan,”
“Itu bukan kesalahan, itu masukan. Nggak papa, sehabis berdebat aku juga berpikir untuk nggak selalu membenarkan apa yang ada di otak aku, ada kalanya ketika pendapat orang lain lebih benar,”
“Jadi, kita udah baikan lagi kan?” Tutur Raihan, lagi-lagi begitu polos.
“Nggak,”
“Nggak?”
“Nggak, sebelum kamu bantuin aku benerin lampu kamar,”
Kontan wajah polos Raihan berubah lega,”Itu mah gampang, biar aku benerin sekarang,”
“Nggak takut pamali,”
“Eh iya, tapi nggak papa deh, habis benerin aku langsung pulang,biar nggak pamali-pamali banget,” Ujar Raihan, kontan keduanya tertawa secara bersamaan. Pagi ini Raihan jauh lebih tampan di mata Zizi, tanpa harus fashionable, tanpa harus kaya dan terlahir sempurna.Raihan sudah tampan dengan apa adanya dirinya.
*****
 (Ruby Adawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...