Jumat, 15 Mei 2015

Back to Rain Part 4



EMPAT

Dan ternyata hujan, serta kesalahpahaman yang menerangkan dirimu...

Berkali-kali Zizi mengetuk pintu rumah Bi Siti namun tak ada yang menjawabnya, apalagi membukakan pintu. Zizi pikir rumah ini tidak akan ditinggalkan pemiliknya selagi jam tengah menunjukkan pukul tujuh malam. Biasanya Bi Siti sudah selesai memasak sejak pukul lima sore tadi, lagipula mana mungkin ketukannya tidak terdengar sampai ke dapur. Lalu dimana Raihan dan Rena? mereka pasti bisa mendengar bunyi pintu yang terketuk lebih daripada ibunya.
Zizi baru hendak berbalik pulang ketika mendengar deru motor memasuki halaman dan ternyata benar, pemilik rumah memang tidak sedang ada di tempat. Bi Siti baru saja datang dengan Raihan entah dari mana, wanita paruh baya itu langsung tersenyum begitu melihatnya.
“Eh,Zizi. Udah dari tadi ya berdiri disitu?,” Ujar Bi Siti ramah, Zizi hanya tersenyum.
“Bibi sama Raihan habis dari mana?”
“Dari rumah saudara, udah lama nggak kesana. Zizi kesini ada apa? Mau masuk ke dalam? yuk,” Bi Siti segera membuka pintu rumahnya yang terkunci, bersamaan dengan Raihan yang turun dari sepeda motor lalu berdiri di sampingnya.
“Nggak kok Bi, saya cuma mau tanya, tukang listrik yang deket di sekitar sini ada nggak Bi? Soalnya lampu kamar tidur saya mati,”
“Tukang listrik?” Ulang Bi Siti. Zizi mengangguk,”Kalo tukang listrik sih nggak ada ya Han, adanya cuma PLN, tapi jauh dari sini. Biasanya kalo cuma mati dikit-dikit dan nggak parah kita perbaikin sendiri,”
Zizi mendesah,”Oh, gitu ya Bi,” Gumamnya lemas. Terbayang olehnya ia tidur di rumahnya sendirian di ruang tengah karna takut tidur di kamar yang gelap, sementara ia harus kedinginan meski menggunakan selimut tebal sekalipun. Belum lagi ada nyamuk-nyamuk yang senantiasa gentayangan di rumahnya, Zizi ingat ia bahkan tak punya obat nyamuk satupun di rumahnya.
“Udah, Zizi tenang aja, coba aja suruh Raihan liatin, kali aja masih bisa diperbaiki. Emang susah cari tukang listrik disini, harus telfon ke PLN langsung, apalagi sekarang sudah malam,” Bi Siti menenangkan sembari menepuk-nepuk lengan Zizi pelan, lalu perhatiannya beralih pada Raihan,”Coba Han kamu kesana, periksa, kali aja kamu bisa perbaiki,”
“Yaudah. Yuk Zi,”
Zizi mengangguk, lantas mengekor di belakang Raihan.
*****
"Wah, kalo ini sih lampunya harus diganti Zi, atau nggak kabelnya ada yang putus, dimakan tikus kali,”
“Tikus?” Ucap Zizi mendesis ngeri. Jangankan membayangkan tikus berkeliaran di rumahnya, melihat tikus saja ia sudah merasa geli.
“Iya, emang kamu nggak tau kalo disini banyak tikus?”
“Serius?” Zizi mendelik, yang langsung disambut seringaian oleh Raihan.
“Tentu aja aku bercanda. Tapi nggak menutup kemungkinan disini bakal kedatangan tikus, meskipun jarang,”
“Ck, bercandanya nggak asik.” Tandasnya, matanya menerawang ke langit-langit kamarnya yang gelap, tempat lampu itu menggantung,”Terus gimana donk lampunya, emang nggak bisa dibenerin?”
“Bisa, cuma kalo sekarang bahaya, udah malem, mending besok aja,”
“Besok?” Desis Zizi lagi. Sepertinya kesialannya tidur di ruang tengah akan menjadi kenyataan malam ini.
Raihan hanya tersenyum,”Jangan pikir aku akan tinggalin kamu tidur sendirian disini malam ini. Kamu itu cewek, nggak baik kalo nggak tidur di kamar, bahaya karna kamu cuma tinggal sendirian di rumah ini, ibu juga pasti ngelarang. Sekarang bawa barang-barang kamu yang penting, hp misalnya, terus kita ke rumah aku,” Tuturnya.
Zizi melirik pada siulet Raihan, ia tidak bisa melihat dengan jelas karna seluruh ruangan cukup gelap. Hanya cahaya dari handphone Raihan dan dari ruang tengah yang membantu penglihatannya. ”Emang nggak papa?”
“Nggak mungkin nggak boleh kali,”
“Kirain pamali,” Sahut Zizi seadanya.
*****
Hujan turun deras begitu Zizi dan Raihan selesai mengunci pintu rumah Zizi. Akhirnya terpaksa mereka lari-larian ke rumah Bi Siti. Meski bersebelahan baju keduanya tak urung terkena derasnya hujan yang tiba-tiba datang.  
“Ayo masuk-masuk,” Perintah Bi Siti dari dalam lalu menutup pintu rumahnya.”Ya ampun, malem-malem begini hujan, untung kita udah sampai di rumah ya Han. Memang sebaiknya Zizi disini aja malam ini, besok aja dibenerin lampunya. Sekarang udah malem terus baju kamu basah, ayo pakai handuk biar nggak terlalu kedinginan,” Lanjutnya sambil masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa handuk di tangannya.
“Makasih Bi,” Ujar Zizi tulus.
“Zizi mau ganti baju? Bisa pakai baju Raihan dulu, mau ya?”
Zizi menggeleng,”Nggak usah Bi, lagian bajunya juga nggak basah-basah amat kok,”
“Yaudah, Bibi bikinin teh dulu, biar agak angetan,”
Kali ini Zizi tak sempat menolak saat Bi Siti masuk ke dalam rumahnya kembali. Ia mendesah, keras sekali.
“Rena mana?” Tanyanya, pada Raihan yang baru disadarinya masih ada di ruangan ini sambil mengelap rambutnya dengan handuk.
“Udah tidur dari tadi kali. Kemarin dia sampe tidur jam dua malam, sekarang udah tidur dari jam enam,” Zizi mengangguk-ngangguk,”Kamu duduk aja dulu, aku mau masuk ke dalam,”
Ia patuh, hari ini Zizi memang terlalu lelah. Tubuhnya ia sandarkan pada sisi kursi seraya menerawang pada jalanan basah melalui jendela ruang tamu. Terkadang jika sedang sendiri dan tak ada kegiatan, ia suka menghabiskan waktunya dengan melamun. Rindu dengan keluarganya di Jakarta, rindu dengan mama, papa, Rizal, dan almarhum bang Reza.Tanpa disadarinya meski terkadang ada saja hal-hal yang membuatnya kesal, mereka selalu menghangatkan hatinya. Ini yang tidak didapatinya ketika berada disana, sebuah kesadaran betapa pentingnya keluarga bagi dirinya.
Tiga hari pertama Zizi tinggal disini, ia selalu menangis tiap malam sebelum tidur karna dia rindu sekali dengan suasana rumahnya serta orang-orang yang ada di dalamnya. Mama bahkan menelfon tiap malam hanya untuk menanyakan keadaan dirinya, padahal saat di Jakarta mama jarang seperti itu. Mama memang ibu yang baik, hanya saja terkesan cuek sebab beliau tidak terlalu bisa mengekspresikan perasaannya. Papa juga sering menanyakan keadaannya, walau saat di Jakarta, beliau dan mama lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bekerja. Rizal apalagi, adik bungsunya itu suka mengeluh karna tidak ada Zizi di rumah, itu berarti tidak ada yang bisa diajaknya berantem, bercanda dan orang yang akan dijailinya.
Memang dasar Rizal sudah ketularan virus-virus bandel dari bang Reza, tapi entah mengapa sekarang ia justru rela dijaili Rizal sampai adiknya itu puas daripada harus menahan rindunya seperti ini. Sementara Bang Reza, tentu saja Zizi sudah tak akan pernah bisa mendengar suara abangnya tersebut, bang Reza telah jauh pergi, jauh ke tempat yang tidak bisa Zizi jangkau. Zizi juga rindu Rani, yang disisa umurnya ia tidak akan melihat sahabatnya itu lagi. Dan Karang, apa kabar prianya yang satu itu, Zizi selalu bertanya-tanya apakah Karang masih sama terpuruknya seperti terakhir kali ia bertemu. Zizi selalu rindu, bahkan meskipun Karang menyuruhnya untuk tidak kembali padanya lagi.
Pernah suatu saat Zizi ingin menyerah, namun ketika mengingat mereka semua, ia seolah ingin bertahan dan menyerah di saat bersamaan.
“Ini tehnya,” Ujar sebuah suara membangunkan Zizi dari lamunannya. Raihan meletakkan secangkir teh hangat dengan asap yang masih mengepul. Pria itu lalu duduk di hadapan Zizi,”Kamu nangis?”
Zizi yang tersadar segera menghapus air matanya, kemudian tersenyum masam sembari menegakkan tubuhnya kembali.
“Kenapa?” Tanya Raihan.
“Nggak papa, cuma kangen keluarga aja,”
“Wajar lah, kenapa harus ditutup-tutupin kalo kamu lagi nangis. Sebenernya aku agak penasaran kenapa kamu pindah kesini, bukannya di Jakarta lebih enak. Disana kamu bukan hanya ada keluarga, tapi juga kemewahan, dan tentunya kamu juga akan lebih aman di tengah-tengah keluarga kamu. Kenapa harus pindah?”
Zizi tersenyum miris, agak sulit menjelaskan semuanya dari awal.”Ceritanya panjang, aku nggak tau gimana mulainya. Yang jelas nggak ada alasan khusus, karna tiba-tiba aja aku berpikiran untuk pindah sementara dari Jakarta,”
“Ada yang salah dengan Jakarta?”
“Nggak ada, cuma aku aja yang ngerasa sumpek. Kamu tau, nggak selamanya jadi anak orang kaya itu enak, ada kalanya kita ngerasa kosong dan nggak bergairah, karna apa yang rata-rata orang lain inginkan mereka sudah memilikinya. Sementara mereka yang hidup biasa-biasa aja harus kerja keras dulu, itu yang bikin hidup jadi semangat. Dan di Jakarta, aku nggak ada bedanya dengan orang yang hanya menikmati kebahagiaan tapi nggak tau cara mendapatkannya. Akhirnya aku cari hal-hal baru yang awalnya aku nggak bisa supaya hidup aku sedikit lebih bergairah, main basket, gitar, nyanyi dan sebagainya. Itu kesibukan yang selalu bisa membangkitkan semangat aku. Lagipula, aku udah terlalu lama menetap di Jakarta, sejak lahir sampai sekarang yang selalu aku lihat kesibukan ibu kota, aku cuma mau cari suasana baru aja, makanya aku kesini,” Papar Zizi panjang lebar. Lagi-lagi Raihan hanya tersenyum, menatap ke arah yang berlawanan dengan Zizi.
“Mungkin jarang anak orang kaya yang berpikiran seperti kamu, teman-teman aku yang kaya justru memanfaatkan kelebihannya itu untuk bersenang-senang, mungkin itu alasannya kenapa aku agak heran dengan kamu. Kamu aneh,”
Kening Zizi berkerut menatap Raihan yang tengah memalingkan wajah darinya,” Apa yang aneh?”
“Aku pernah berpikir seandainya aku jadi orang kaya, hidup selalu mudah, dan aku nggak perlu melihat ibu banting tulang untuk membiayai sekolah kami. Terkadang aku juga iri dengan teman-teman aku yang punya gadget canggih, bisa beli apapun yang mereka mau, pasti rasanya senang bisa punya barang-barang mahal,”Raihan setengah bergumam.
“Kamu akan merasa biasa kalo barang-barang seperti itu dengan mudah bisa kamu dapatkan,”
“Aku tau, itu sebabnya aku bilang kamu aneh. Kamu malah mengeluhkan hidup kamu yang menurut kamu terlalu datar,” Timpal Raihan. Tak ada jawaban dari Zizi sampai dia menyeringai sembari menatap kesal pada pria di hadapannya, bagaimana pria ini bisa dengan mudah mengatakan hal seperti itu padanya.
“Aku nggak mengeluh, aku cuma bilang aku ingin suasana baru. Aku juga nggak bilang aku nggak mau jadi orang kaya, aku hanya merasa selama ini hidupku terlalu mudah karna aku nggak perlu bekerja untuk mendapatkan sesuatu,” Tandas Zizi jengah.
“Itu masalahnya, karna hidup kamu seperti itu kamu mengeluh. Kamu kurang bersyukur, bukannya tadi kamu bilang kamu biasa belajar sesuatu hal yang baru untuk membuat hidup kamu jadi lebih bergairah,kalo gitu kenapa kamu nggak belajar sesuatu yang baru lagi. Nggak ada hidup yang mudah Zi, orang kaya pun juga pasti punya masalah, jangan hanya karna kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan kamu jadi berpikir hidup kamu datar. Justru apa yang kamu jalani saat ini adalah masalah kamu,”
“Kamu nggak ngerti Han, apa yang kamu pikirkan nggak sama dengan apa yang aku alami,”
“Aku emang nggak tau cerita dari awal, tapi apa yang kamu pikirkan itu aku yang nggak bisa ngerti,”
Zizi mendesah, terlampau ingin menyudahi pembicaraan ini. Ia lantas beranjak berdiri dengan wajah kusut, malas berada dalam satu ruangan bersama orang yang membuat suasana hatinya semakin memburuk.”Yaudah lah, kalo kamu nggak ngerti emang lebih baik seperti itu. Karna walau aku jelasin pun sepertinya kamu juga nggak bakal paham. Jadi memang sebaiknya kita nggak usah ngomongin lagi masalah ini,” Tuturnya datar, kesal dan jengah. Semua perasaan itu bersatu padu dalam pikirannya.
“Kamu mau kemana?” Tanya Raihan begitu Zizi hendak beranjak dari tempatnya.
“Tidur, hari ini aku capek banget.”
“Dimana?”
Zizi membalikkan badannya lagi,”Di ruang tengah,”
“Siapa yang bilang kamu boleh tidur disitu,”
Otot-otot syaraf Zizi menegang, rupanya pria di hadapannya kini sengaja membuatnya tidak tahan untuk bersabar,”Maksud kamu?”
“Malam ini kamu tidur di kamar aku, biar aku yang tidur di ruang tengah,”
Refleks kekesalan yang menggumpal dalam benak Zizi mengendur seketika, apa-apaan ini? mengapa suasana hatinya jadi cepat berubah-ubah, biasanya ia selalu tenang dalam menghadapi sesuatu apapun,”Siapa yang bilang aku mau tidur di kamar kamu? Aku kan cuma numpang semalam disini, masa gara-gara lampu kamar aku mati kamu juga ikut-ikutan tergusur dari kamar kamu sendiri,” Tolaknya halus, ia merasa tidak enak.
“Itu karna kamu cewek, kalo kamu cowok kamu udah aku suruh tidur dengan aku. Lagian cowok macam apa sih yang ngebiarin seorang cewek tidur sendirian di sofa sementara dia malah enak-enakan tidur di atas kasur yang hangat,”Jelas Raihan,”Ikut aku,”
Meski masih merasa tidak enak hati dan cukup kesal karna perdebatannya dengan Raihan, Zizi tetap mengikuti Raihan yang tengah menuju kamarnya. Cowok itu mengambil satu bantal di atas tempat tidurnya dan selimut yang ada disana lalu diletakkannya di sofa ruang tengah yang menjadi satu dengan ruang makan dan televisi. Raihan lantas masuk ke kamarnya kembali, mengambil selimut dari dalam lemarinya kemudian dia letakkan di atas tempat tidur, sembari dirapikannya seperti semula. Begitu selesai, Raihan segera menuju ke tempat Zizi yang tengah berdiri bingung di ambang pintu kamar.
“Udah selesai, sekarang kamu boleh tidur disana,”
Kamar Raihan tampak rapi, setidaknya itu yang didapati Zizi ketika ia melongokkan kepalanya mengamati keseluruhan isi kamar. Memang tidak banyak ada barang, hanya satu buah tempat tidur, lemari, meja belajar, rak sepatu, dan rak buku kecil. Tapi sebagai kamar cowok, kamar tidur ini cukup teratur. Berbeda halnya dengan kamar bang Reza atau Rizal, keduanya sama-sama tidak bisa bersih dan rapi terhadap kamar tidur mereka, biasanya pembantu rumahnya yang selalu membersihkan kamar kedua saudaranya itu.
“Kamar aku memang nggak sebagus kamar kamu, tapi aku harap kamu bisa betah tidur disini malam ini,”
Zizi menoleh ke arah Raihan yang lagi-lagi memalingkan wajah darinya,”Kamar kamu lumayan, sederhana,” Gumam Zizi jujur.
“Kamu bisa tidur sekarang,” Raihan memotong. Tanpa banyak bertanya lagi, Zizi masuk ke kamar Raihan, melihat-lihat lebih dekat. Raihan yang merasa dirinya harus pergi segera meraih ganggang pintu dari luar,”Jangan lupa kunci pintunya, bahaya,” Ujarnya sebelum akhirnya menutup pintu.
Zizi menatap sosok yang menghilang di balik pintu itu dengan seksama, berdiri selama beberapa detik, tanpa sadar bibirnya menyunggingkan sebuah senyum kecil.
*****
(Ruby Adawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...