Selasa, 12 Mei 2015

Back to Rain Part 3



TIGA
Raihan....???

Zizi baru keluar dari rumah saat waktu menunjukkan pukul 06.30. Setengah jam lagi bel masuk sekolah berbunyi dan ia pikir akan sangat cukup jika berangkat sekolah sekarang. Butuh waktu dua puluh menit untuk kesana dengan kecepatan sedang dan memang lebih baik jika Zizi sampai lebih awal ke sekolah. Dia melihat-lihat ke rumah Bi Siti sejenak, berniat berpamitan jika tetangga sebelahnya itu berada di halaman rumah. Biasanya Bi Siti sedang menyapu halaman rumahnya jika sepagi ini, tapi tampaknya seluruh halaman rumah Bi Siti sudah bersih itu berarti Zizi kalah cepat. Ia justru hanya melihat seorang pria remaja seumuran dirinya ada disana, memakai seragam putih abu-abu yang sama sedang menaiki motor. Zizi tidak tau pasti apakah pria itu teman satu sekolahnya atau bukan, sebab ia sempat melihat beberapa SMA yang lain juga memakai seragam seperti dirinya. Zizi mengangkat bahunya tidak peduli, memang apa salahnya jika ada anak remaja di halam rumah Bi Siti. Bisa jadi itu anak, keponakan, adik, atau bukan siapa-siapa Bi Siti, mungkin hanya numpang parkir.Tidak ada hubungan dengannya.
Zizi lantas masuk ke dalam mobil,meski sedikit susah mengeluarkan mobilnya lantaran jalan yang terlalu sempit, akhirnya perjalanan Zizi lancar juga.
Dan tampaknya perkiraan Zizi tidak meleset, jam 06.50 ia sudah sampai di SMA yang sudah tiga hari ini menjadi sekolah tempatnya menjalani satu tahun  terakhir sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi, SMA Cikal Bangsa. Memang tidak istimewa, gedung sekolahnya saja jauh berbeda dengan SMAnya dulu, apalagi fasilitas dan kualitasnya. SMA Zizi yang dulu bisa berkali-kali lipat lebih mahal jika dibandingkan dengan SMA ini. Sekolah Zizi merupakan SMA swasta yang cukup bergengsi di Jakarta, tidak sembarang anak bisa masuk disana kecuali anak-anak orang kaya yang benar-benar punya kemampuan. Selain itu kondisi belajarnya ditunjang dengan alat-alat canggih serta tenaga pengajar yang bertaraf internasional. Berbeda dengan SMA Cikal Bangsa yang merupakan milik negeri dengan fasilitas sederhana dan biaya yang bermasyarakat pula. Tidak jarang bahkan di antara mereka termasuk golongan menengah ke bawah,meski SMA Cikal Bangsa juga termasuk SMA Favorit di daerah ini karena beberapa siswanya berhasil memenangkan perlombaan-perlombaan tingkat kabupaten dan profinsi. Tapi justru itu yang menarik bagi Zizi, mereka punya kesederhanaan dan rasa sosial yang lebih daripada teman-temannya di Jakarta.  Dan itu membuat Zizi senang walaupun lingkungan ini berlawanan dengan kehidupannya.
Ia hendak melewati pintu kelas ketika bahu bagian kanannya bersinggungan dengan siswa lain yang juga akan masuk kelas. Keduanya kontan terkaget lalu saling berhadapan, pria ini seperti teman sekelasnya tapi Zizi tidak tau siapa namanya. Dia sama sekali belum pernah berbicara dengan pria tersebut sebelumnya.
“Maaf,” Kata Zizi cepat.
“Iya gak papa, yaudah kamu masuk duluan aja,” Ujar pria itu, suaranya berat, dan bagi Zizi semua hal mengenai pria ini asing, dia tak pernah mengenalnya.
“Kamu duluan aja,”
“Ladies first,”
Zizi menyeringai,”Terserah deh,” Tuturnya lalu masuk kelas dengan santai. Ia segera menuju bangkunya di samping Ita yang tengah duduk diam sembari menyapu pandangannya ke seluruh kelas. Menyedihkan, itu satu kata yang ingin Zizi berikan untuk Ita. Gadis tersebut sungguh polos dan pendiam, ia bukan tidak punya teman, hanya saja tidak tau bagaimana caranya berteman, seperti takut menghadapi orang lain. Ita berbicara hanya sepentingnya saja, dan seringkali Ita berada dalam suatu obrolan layaknya orang asing karna dia tidak berbicara apapun, cuma mendengarkan. Zizi bingung bagaimana Ita bisa bertahan hidup seperti itu.
Begitu Zizi meletakkan tas di bangkunya, ia lantas ikut-ikutan melihat-lihat suasana kelasnya, mencari tau apa yang menarik dari kelas ini sehingga Ita hanya duduk diam dan memandangi kelasnya sendiri. Hampir semua anak datang dan kebanyakan dari mereka mengobrol atau duduk-duduk di luar, yang jelas tidak ada yang hanya duduk diam untuk melamun seperti Ita. Matanya justru menangkap pria yang bersinggungan dengannya tadi tengah berbicara dengan teman di belakangnya. Pria itu kurus apalagi setelah dia melepas jaketnya, dan wajahnya juga lumayan, tapi tidak special. Perawakannya sederhana, itu bisa dilihat Zizi dari penampilan pria tersebut. Tampaknya dia juga bukan pria kacangan yang tidak bisa apa-apa, Zizi tidak tau pasti, tapi sepertinya pria itu juga cukup pintar.
Zizi lantas mengalihkan pandangannya ke depan, sebenarnya ia tidak tahan kalau hanya diam seperti Ita meskipun ia bukan anak yang cerewet. Biasanya jika tidak sedang mengobrol, Zizi menunggu bel masuk dengan membaca buku atau bermain i-phone. Tapi tampaknya kali ini ia sedang malas melakukan semua itu, ia sedang tidak punya buku yang bagus untuk dibaca, mungkin nanti ia akan membelinya. Dan lagi, Zizi tengah malas dengan i-phonennya, Zizi ingin mengobrol, sayangnya ia tidak tau apa yang akan diobrolkannya dengan Ita, gadis itu terlalu pendiam.
“Kamu kesini naik apa Ta?” Tanya Zizi berbasa-basi. Sebagai teman sebangku ia rasa tak ada salahnya memberi perhatian.
“Dianterin sama ayah,” Jawab Ita singkat. Bahkan suaranya pun kecil.
“Terus kalo pulang dijemput?”
Ita menggeleng,”Aku biasa naik angkot,”
“Sendirian?”
“Nggak, ada beberapa temen juga yang naik angkot bareng aku,”
Zizi mengangguk-ngangguk,jadi Ita punya teman, gumam Zizi namun tak menyuarakannya. “Emang rumah kamu ke arah mana sih?”
“Ke arah timur, di gang Malabar. Kira-kira dua puluh menit dari sini kalo naik angkot,”
“Jadi rumah kamu ke arah timur? Kenapa nggak bareng aku aja sekalian, kebetulan rumah kita searah,” Ita hanya tersenyum. Tepat saat itu bel masuk berbunyi.
*****
Rumah Bi Siti masih sepi saat Zizi sampai di rumah, apalagi rumahnya, benar-benar tak berpenghuni selama Zizi pergi ke sekolah. Zizi segera masuk rumahnya lalu meletakkan tas dan sepatunya di kamar, sementara ia tak mengganti seragamnya. Perutnya keroncongan begitu ia pulang dari mengantarkan Ita. Zizi berhasil membujuk anak itu untuk pulang dengannya, selain karna Ita tidak punya teman untuk pulang, tak ada salahnya juga Zizi berbuat baik kepada sesama teman. Tadi Zizi juga hendak menawarkan tumpangan kepada beberapa teman Ita yang akan naik angkot, tapi diurungkannya karna Zizi pikir mereka akan menolak, mereka tak terlalu mengenalnya meski dalam beberapa hari ini kepindahan Zizi telah dibicarakan hampir seantero sekolah. Dia pun tidak pernah menyangka bahwa di sekolah ini ia bisa cepat teenar.
Satu hal yang disesalinya ketika tiga hari pertamanya pindah sekolah dan tempat tinggal, ia sungguh sendirian. Berada di rumah tiap malam tanpa ada siapapun selain dirinya benar-benar membosankan, satu-satunya hal yang menghiburnya hanyalah ketika pergi sekolah, ia jadi punya banyak anak yang bisa dijadikannya teman. Seharusnya Zizi berpikir sebelum memutuskan pindah, ada baiknya jika dia kos saja sehingga setidaknya ia punya teman kos. Hampir setiap hari ketika pulang sekolah, Zizi hanya menghabiskan waktunya dengan memainkan gitarnya sambil bernyanyi. Zizi cukup mahir dalam hal ini, sejak kecil dia suka bernyanyi dan suaranya memang bagus, ia ikut eskul musik di sekolah lamanya hanya saja ia tidak berminat untuk menjadi penyanyi. Jika sedang lelah, biasanya Zizi bermain laptop atau i-padnya,terkadang juga menonton televisi, itu pun kalau ia malas jalan-jalan di sekitar kompleks ini. Karna Zizi akan menghabiskan satu tahun disini, ia berpikir ada baiknya mengenal suasananya terlebih dahulu. Jika tidak Zizi memilih jogging, olahraganya tidak terlalu buruk, setidaknya ia jago bermain basket.
Tapi hari ini Zizi tak berminat melakukan ketiganya, ia butuh teman mengobrol. Itu mengapa ia memutuskan untuk pergi ke rumah Bi Siti, di tempat tinggalnya kini hanya Bi Siti satu-satunya orang yang ia kenal, dan selama itu pula Zizi belum pernah ke rumah Bi Siti. Mungkin jika ia pergi kesana ada banyak hal yang bisa dilakukannya, mengobrol atau memasak misalnya, meski ia mengaku tak pandai memasak.
Zizi mengetuk pintu rumah Bi Siti sambil mengucapkan salam, ia yakin Bi Siti sedang ada di rumah. Hanya beberapa detik Zizi berdiri menunggu, pintu rumah terbuka dan matanya langsung tersorot pada si pembuka pintu, begitupun sebaliknya.
“Kamu?” Seru Zizi heran.
“Siapa Han?” Ujar Bi Siti yang muncul dari dalam, bibirnya langsung tersenyum begitu melihat Zizi,”Zizi? Ayo masuk, kalian pasti udah kenal satu sama lain kan? Kalian kan satu sekolah?”
Zizi tak segera menjawab, dia memandang ke arah Bi Siti dan pria itu secara bergantian dengan kening berkerut.
*****
“Jadi kamu anaknya Bi Siti?” Tanya Zizi pada pria yang tengah duduk di hadapannya. Untuk pertama kalinya selama tinggal disini Zizi duduk di ruang tamu Bi Siti. Dan selama itu juga ia tidak pernah tau kalau pria di depannya adalah anak dari Bi Siti yang juga satu sekolah dengannya, bahkan satu kelas, namanya Raihan. Zizi baru tau.
“Iya, jadi kamu Zizi anak pak Burhan yang sekarang tinggal di rumah sebelah itu?”
Kening Zizi kembali berkerut,”Kamu tau papa aku?”
“Tau. Beberapa tahun yang lalu dia pernah kesini sama mama kamu, aku juga tau kamu, semua keluarga kamu aku tau,”Sahut Raihan santai.
“Kamu tau aku? Kalo gitu kenapa kamu nggak nyapa aku duluan waktu kita ketemu di sekolah?“Desis Zizi,”Yaah.., setidaknya itu lebih memudahkan aku dalam menyesuaikan diri seandainya ada satu anak disana yang aku kenal,” Tambahnya.
Raihan hanya menyeringai,membuat Zizi berpikir itu senyuman paling innoncent yang pernah dilihatnya,”Maaf, aku cuma nggak yakin Zizi anaknya pak Burhan itu kamu. Soalnya Zizi yang aku tau cuma lewat foto masa kecilnya, waktu itu kamu masih kecil banget, pipi kamu masih kayak bakso. Sekarang kan udah keliatan beda,”
“Emang kenapa kalo yang sekarang?” Timpal Zizi cepat. Raihan tak menjawab, hanya tersenyum kecil.”Kamu kan bisa tanya sama ibu kamu, masa sih kamu nggak pernah denger kalo rumah sebelah itu bakal ada yang nempatin?”
“Kenapa kamu juga nggak tanya Bi Siti punya anak atau nggak. Jangan-jangan kamu berpikir kalo ibu cuma tinggal sendirian,”
Zizi berdecak, image tenang dan santainya bisa-bisa tergoyahkan jika ia terus-terusan berdebat dengan pria ini,”Nggak, aku tau Bi Siti punya dua anak. Tapi yang pernah ketemu dengan aku itu si Rena, anak bungsu Bi Siti yang umurnya masih empat belas tahun, sama sekali nggak pernah ketemu kamu,”
“Kalo gitu kamu harus cari tau. Tapi salah aku juga sih nggak pernah berkunjung kesana, itu karna aku nggak mau ada yang denger kalo aku datang ke rumah cewek, apalagi yang tinggal sendirian, pamali,”
“Jujur banget sih, dan jaim,” Ujar Zizi setengah mendesah.
Raihan hanya menyeringai kecil,”Bukan gitu, kalo ada tetangga yang tau terus jadi bahan gossip kan juga nggak enak. Aku sih nggak papa selama aku bener-bener nggak ngelakuin kesalahan, tapi ibu, beliau pasti malu,”
Kali ini Zizi terdiam. Entah seberapa banyak penilaian di pikirannya tentang Raihan, biasanya instingnya selalu tajam, namun sepertinya ada beberapa hal yang tidak diketahuinya mengenai pria ini.
Zizi mengangkat bahu,”Aku rasa kamu bener. Kalo gitu jangan pernah datang ke rumah, karna aku yang akan datang ke rumah ini. Di rumah aku sendirian, males nggak ada teman ngobrol. Aku kesini sebenernya pengen ngobrol sama Bi Siti, tapi kayaknya dia lagi sibuk,” Zizi mendesah pelan. Dia berpikir berkunjung ke rumah ini adalah pilihan yang tepat sejak awal, meskipun tak bisa berbicara banyak dengan Bi Siti setidaknya ada Raihan. Pria itu sebenarnya cukup untuk dijadikan teman ngobrol.
“Ibu lagi masak untuk pelanggan, biasanya sore nanti ia baru bisa berhenti. Biasa lah, karna nggak ada yang menafkahi kami, jadi ibu banting tulang sendirian dengan buka usaha catring. Kalau kamu mau ngobrol sama ibu, sekarang memang bukan waktu yang tepat,” Ucap Raihan. Zizi memandang sekilas ke arah pria tersebut, sempat berpikir bagaimana jika ia megobrol dengan Raihan saja. Tapi bukankah obrolan selalu terjadi secara refleks.
“Gitu ya. Kayaknya kalo aku ikutan juga bakal nggak ngebantu. Yaudah deh,” Zizi hendak beranjak,ketika Raihan juga berdiri.
Mau kemana?”
Zizi menoleh,”Pulang,”
“Nggak mau nungguin ibu selesai masak? bentar lagi Mbak Asih datang, mungkin kalo ada Mbak Asih ibu bisa ninggalin pekerjaannya sebentar buat nemenin kamu ngobrol,”
Zizi menggeleng sembari tersenyum tulus,”Mungkin lain kali, yang jelas aku nggak mau ganggu kerjaan Bi Siti. Apa kamu juga nggak lihat aku belum ganti baju, aku juga belum makan. Jadi aku mau pulang aja, makasih karna kamu sempat nemenin aku ngobrol,” Katanya.
“Kamu bisa kesini nanti,” Tutur Raihan,”Kalo kamu takut sendirian di rumah, kamu bisa datang kesini, kami semua mau kok jadi teman ngobrol kamu,”
Pria itu tersenyum, yang lantas dibalas senyuman juga oleh Zizi,”Makasih,” Ucapnya sebelum Zizi akhirnya keluar dari rumah tersebut.
*****
Zizi memasuki kelasnya yang terlampau bising pagi ini, tidak biasnya pagi-pagi begini semua anak berada di dalam kelas dan tak ada satupun yang bertengger di luar ataupun mengobrol. Semua anak tampak sibuk dengan buku-buku tapi bergerombol pada beberapa bangku. Zizi mendesah, rupanya mereka sedang mencontek PR matematika yang baru diberikan kemarin. PR pertama setelah lima hari ia bersekolah di tempat ini. Zizi segera menuju bangkunya yang juga dipadati sejumlah anak, tak ada tempat baginya untuk duduk. Akhirnya dia hanya meletakkan tasnya dan berniat untuk berdiri di atas balkon.
“Zizi, kamu baru datang?” Tanya sebuah suara yang dua hari terakhir ini cukup ia kenali. Zizi menoleh, Raihan tengah berdiri sambil membawa buku dan bolpoin di tangannya.
Zizi mengangguk,”Baru aja,”
“Udah ngerjain PR?”
“Udah,”
“Boleh lihat nggak?”
Kening Zizi berkerut, seolah mendapatkan firasat buruk,”Buat apa? Jangan bilang kamu mau nyontek,” Tuduhnya pelan. Seumur-umur belum pernah ia mencontek apalagi dicontek, sekolahnya dulu selalu menanamkan perilaku jujur dalam setiap pekerjaan, selain itu mereka juga diawasi dengan perangkat canggih sehingga tak ada satupun siswa yang berani mencontek walau sedang tidak tau sekalipun.
Raihan  hanya menyeringai,”Aku udah ngerjain PRnya di rumah kok, cuma mau cocokin jawaban aja, kali aja ada jawaban yang salah,”
“Cocokin jawaban? Apa bedanya sama nyontek?”
“Beda lah, aku kan nggak menyalin PR kamu, cuma dilihat jawabannya beda apa nggak,”
“Intinya, kita ngelihat jawaban teman kan, kalo ada salah pasti jawabannya diubah dengan lihat punya teman yang jawabannya dicocokin itu. Dan itu nggak boleh,” Tegas Zizi lalu melenggang pergi meninggalkan Raihan yang kebingungan. Ia baru melihat seseorang yang baginya kelewat pelit seperti itu. Tapi toh Raihan tak bersikeras untuk mencocokkan jawaban PRnya dengan milik Zizi, mungkin seterusnya ia tidak akan pernah memintanya lagi kecuali jika kepepet dan jika Zizi mengizinkannya. Namun begitu, ia heran juga ketika Zizi mendapatkan nilai yang paling tinggi di kelas mereka setelah PR matematika itu dikoreksi pada jam pertama. Padahal Zizi tak berdiskusi apalagi mencontek satu jawabanpun.
Nampaknya Zizi akan menjadi saingan terberat dalam bidang pelajaran di kelas ini. Gadis itu bahkan bisa berbicara bahasa inggris dengan baik dan cukup memuaskan pada bidang seni. Tadi sewaktu penilaian kesenian, setiap siswa disuruh untuk menunjukkan keahlian mereka apa saja, asalkan berkaitan dengan seni. Kebanyakan dari siswa memilih menyanyi, karna itu bisa dilakukan oleh siapa saja walaupun jelas, yang memiliki suara bagus akan terdengar sangat baik sementara yang hanya asal-asalan alias payah di bidang seni, hanya mendapat ekor nilai saja, tidak ada spesialnya.
 Dan Zizi memilih bernyanyi, tidak hanya itu, Zizi juga bermain gitar. Memang suara Zizi bukan suara paling bagus yang pernah di dengar Raihan, tapi suara Zizi tetap enak di dengar. Beberapa anak bahkan ikutan bernyanyi diiringi alunan gitar yang Zizi mainkan. Itu membuat penilaiannya meningkat tajam mengenai gadis bernama Azira Maharani tersebut. Tidak hanya enak dijadikan teman, ternyata Zizi adalah gadis berbakat yang entah mengapa bisa terjerumus di sekolah ini. Padahal di sekolahnya di Jakarta, Raihan yakin Zizi mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik daripada disini, namun entah mengapa Zizi malah memilih pindah. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran gadis itu.
*****
Zizi hanya tertawa ketika mendengar Raihan bernyanyi di depan kelas dalam pelajaran kesenian. Pria itu sungguh tidak punya bakat bernyanyi, dia bahkan terlihat konyol ketika maju dan menyanyikan lagu dengan suara falsnya yang telah mengganggu gendang telinga seluruh penghuni kelas. Raihan bahkan tak peduli jika semua anak di kelas ini tengah mentertawakannya, justru pria itu berusaha membuat anak-anak semakin semangat untuk berdebat dengannya yang ujung-ujungnya menghasilkan tawa juga.
“Udah Han, kamu duduk aja, daripada kamu nyanyi tapi nggak tau nyanyi apa,” Seru Wildan setengah berteriak, dan itu dilakukannya sambil tersenyum lebar.
“Bentar-bentar, nanggung kurang satu lirik lagi,” Sahut Raihan dengan PDnya.
“Liriknya juga nggak bener, udah duduk aja sana,” Maya ikut-ikutan menyeletuk.
“Eh nggak bisa gitu, untuk menghormati pencipta lagunya,setiap lagu yang kita dinyanyikan harus kita selesaikan. Bentar-bentar, tahan, cuma satu menit, tinggal satu bait lagi,”
“Kayak tau pencipta lagunya aja,” Ujar anak yang lain. Raihan yang tadinya hendak bernyanyi lagi kontan terhenti sambil berdecak pada si pemilik suara.
“Sudah-sudah. Raihan, kalo lagunya belum selesai cepat nyanyikan, nanti waktu kita keburu habis ini,” Bu Riska, guru mata pelajaran kesenian menengahi. Anak-anak kontan terdiam sembari tertawa kecil melihat Raihan yang tersenyum puas seraya menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Setelah menghela napas satu kali yang terkesan sangat dramatis dan berlebihan. Raihan kembali bernyanyi dengan suaranya yang serak-serak fals bahkan bahkan banyak nada yang keteteran.
Mendengar itu, Zizi melipat kedua tangannya ke depan dada. Tertawa kecil seraya geleng-geleng kepala,”Dasar freak,” Gumamnya pelan.
*****
(Ruby Adawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...