Minggu, 10 Mei 2015

Back To Rain Part 2



DUA

Apa ada kesakitan lain, selain kehilangan orang-orang yang kita sayangi?

“Namaku Azira Maharani, biasa dipanggil Zizi, pindahan dari SMA Global Sevilla International School, Jakarta. Gue.., eh, aku berharap kita bisa berteman baik,” Ucap Zizi memperkenalkan diri di depan kelasnya, kelas barunya di SMAN Insan Mandiri. Dia langsung tersenyum ramah pada teman-temannya yang justru beberapa ada yang berbisik dengan teman sebelahnya dengan ekor mata yang tetap melirik ke arah Zizi, terutama siswa pria. Sementara sedikit yang balas tersenyum ke arahnya dan mereka semua wanita.
Zizi merasa sedikit aneh tapi ia diam saja sembari mencoba untuk tetap terlihat santai. “Mungkin masih ada yang mau kalian ketahui tentang gue, eh.. aku,”
Suasana masih sama ketika Zizi kembali membuka suara, hanya saja suara bisik-bisik mulai berkurang.
“Nomer HP!!” Celetuk sebuah suara dari belakang, yang langsung disambut dengan sorakan dan tawa. Sementara yang tadi bersuara segera menyembunyikan tubuhnya di balik meja sehingga Zizi tak tau betul wajah pria tersebut.
“Sudah sudah!” Sela pak Agus, wali kelas Zizi. Semua anak lantas diam mendengar perintah dari pria paruh baya berwajah ramah dan wibawa yang kini tengah berdiri di samping Zizi itu. “Zizi boleh duduk sekarang, kamu bisa duduk di sebelah Ita, karna hanya tinggal itu bangku kosong di kelas ini,” Tunjuknya pada salah satu bangku paling pojok kanan di barisan nomer dua dari depan. Disana telah duduk seorang wanita berkerudung berkaca mata yang tampak pendiam, beruntung karna di depan, belakang dan samping tempat duduk Zizi semuanya dihuni wanita. Kelompok pria paling dekat dari sana berada di barisan nomer dua dari belakang di bagian bangku tengah. Bukan berarti Zizi takut atau khawatir berada di dekat pria, memiliki kakak dan adik kandung laki-laki justru membuatnya mengenal pria dengan baik, hanya saja ia sedikit illfeel pada siswa pria di kelas ini sejak tak ada satupun dari mereka yang tidak berbisik ketika Zizi memperkenalkan namanya tadi.
Tanpa basa-basi lagi Zizi segera duduk di tempat yang ditunjuk pak Agus tersebut. Banyak pasang mata yang mengekorinya saat ia berjalan, dan itu dibalas Zizi dengan senyuman yang dibuatnya seramah mungkin.
“Hai, Ita kan?”Tanya Zizi mencoba basa-basi pada teman sebangkunya. Gadis yang dipanggil Ita itu tersenyum sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya. Sekilas Ita tak tampak seperti anak kelas tiga SMA. Tubuhnya kecil dan sepertinya itu yang membuat Ita terlihat lebih muda, wajahnya yang menurut Zizi sebenarnya lumayan ditutupi oleh kaca mata minus dengan berbalut jilbab putih. Tampilannya sederhana juga terlalu apa adanya, disini Zizi bisa menarik kesimpulan bahwa Ita termasuk anak yang pendiam dan sepertinya cukup pintar. Tidak masalah buatnya, ia sama sekali tidak memilih pada anak berpenampilan seperti apa seharusnya ia berteman.
Zizi ikut tersenyum, dia langsung duduk di bangkunya dan memandang sekitar kelasnya sekali lagi. Ini benar-benar terasa baru buatnya.
*****
Mungkin hari ini bukan termasuk hari yang melelahkan bagi sebagian besar anak di SMA Insan Mandiri. Hari pertama sekolah setelah liburan kenaikan kelas berakhir, lalu hanya melewati hari tanpa menerima satupun pelajaran, cukup menyenangkan, setidaknya mereka bisa mengisi jam kosong dengan mengobrol. Tapi tidak bagi Zizi. Sebagai murid baru ia cukup maklum -berusaha maklum- ketika dia di’kepo’in oleh teman-teman satu kelasnya. Atau bahkan anak-anak kelas lain pun juga pada ingin tau tentang dirinya. Zizi tidak mengerti apakah kedatangan murid baru merupakan fenomena yang ‘asing’ di sekolah ini. Dia hanya berpendapat demikian ketika banyak anak yang bergerombol mendatangi bangkunya, baik hanya mengajak dia kenalan maupun yang juga berniat mengobrol dengannya. Meskipun begitu Zizi cukup senang, ini membantunya untuk bisa bersosialisasi lebih mudah.
Satu persatu pertanyaan yang mereka lontarkan Zizi berusaha menjawabnya dengan baik. Seperti lotre saat mereka menanyakan beberapa pertanyaan secara bergantian sementara yang lain mendengarkan ketika ada yang bertanya dan Zizi yang menjawab. Kenapa pindah? Kamu anak ke berapa? Orang tua kamu tetep tinggal di Jakarta? Kamu tinggal dimana Zi? Di Jakarta kamu tinggal dimana? Dan Enak nggak tinggal di Jakarta?, yang satu ini Zizi agak bingung menjawabnya, jadi dia hanya bergumam sekenanya,”Ada enaknya, ada nggaknya,”
“Kamu kesini naik apa Zi?” Tanya seorang gadis berambut lurus panjang hasil rebonding. Zizi baru sadar dari ternyata rebonding rambut menjadi trenseter di sekolah ini. Buktinya ia menemui beberapa anak yang rambutnya direbonding, meski ia lebih sering berpapasan dengan siswi berkerudung yang jumlahnya juga cukup banyak.
“Mobil,”
“Mobil?” Seru beberapa anak yang bisa ditangkapnya, seperti desisan kagum. Zizi mengangguk.
“Kamu bisa naik mobil?” Sahut Iva, dia yang paling cerewet menurut Zizi, karna sejak tadi Iva selalu mengajukan pertanyaan ataupun menimpali jawaban Zizi.
“Kalo cuma naik sih semua orang pasti bisa lah,” Zizi berucap.
“Maksud aku, kamu bisa nyetir mobil?”
Zizi kembali mengangguk, beberapa anak bergumam tidak jelas dan Zizi hanya menatapnya bingung.
“Jadi, mobil putih yang ada di depan itu mobil kamu?”
“Iya, kenapa? Salah parkir ya?” Tanya Zizi memastikan, mengingat ia tidak salah karena memarkir mobilnya dengan mobil-mobil lain.
“Nggak kok, tempat parkir mobil memang disana. Tapi emang keren aja kalo ada cewek di sekolah ini yang bisa nyetir mobil,” Jawab salah seorang anak.
“Emang disini belum ada?”
“Belum. Disini memang ada beberapa murid yang bawa mobil, tapi semuanya cowok. Jadi kamu murid cewek pertama yang bisa nyetir dan punya mobil pribadi di sekolah ini,”
“Ohh,” Desis Zizi pelan, tidak tau harus menjawab apa lagi.
Pertanyaan demi pertanyaan terus berlanjut. Bahkan sebagian dari mereka mulai terbuka dengan menceritakan hal-hal menarik dan agenda tahunan sekolah, sampai SMA lain yang menjadi musuh bebuyutan sekolah ini. Zizi senang ternyata anak-anak disini cukup ramah dan cenderung tidak pilih-pilih teman, semuanya membaur bahkan untuk Zizi yang baru menjadi salah seorang di antara mereka. Namun begitu, ada saja pertanyaan yang dilontarkan pada Zizi di sela-sela perbincangan. Misalnya, kamu udah punya pacar nggak Zi? Zizi tidak tau bahwa pertanyaan seperti itu cukup penting bagi mereka. Zizi hanya tersenyum kecil sebelum ia menjawab,”Nggak,”, lalu mereka menimpali,”Pantes mau pindah, habis nggak ada yang dikangenin sih,”. Dan lagi Zizi tersenyum seraya menggigit bibir.
Entah seberapa penting arti seorang pacar, karna baginya yang terpenting adalah hatinya. Mungkin ia masih punya pacar seandainya kecelakaan itu tak terjadi dan mengambil kemampuan berjalan dan beraktivitas orang dikasihinya. Bahkan mungkin kecelakaan itu juga mengambil statusnya sebagai seorang pacar. Karna seberapapun Zizi mencoba untuk tetap berada di sisi pria tersebut, justru pria itu yang memutuskan hubungan mereka dengan alasan cacat. Meskipun bagi Zizi, tak peduli seperti apa cacat yang menjadi sekat di antara mereka, hatinya masih tetap sama.    
*****
Zizi menutup pintu pelan, lantas segera berjalan menuju kamarnya. Sepulang sekolah ia merasa lapar namun tak berniat untuk makan, tubuhnya lelah, hatinya juga lelah. Dibantingnya tubuhnya ke atas kasur sambil meraih i-pad yang tak jauh dari tempat Zizi berbaring. Slide demi slide foto diperlihatkannya secara bergantian, benar-benar menyesakkan. Bagaimana ia bisa berubah jika hatinya tak kunjung menjauh dari ingatan pahit itu. Ia hanya merasa kosong dan di dalam kekosongan itu ada rasa sakit yang tak tertahankan. Terlalu cepat baginya kehilangan ketiga orang itu sekaligus.
“Bang Reza,” Lirih Zizi pada foto pria muda berumur dua puluhan yang sedang menaiki motor besarnya sembari tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih,”Menurut gue lo itu nggak ganteng, jadi berhenti bersikap seolah lo orang yang paling ganteng di dunia ini. Tapi lo itu imut bang, lucu, apalagi waktu tersenyum kayak gini dan itu yang bikin lo keliatan keren. Hari ini gue punya temen-temen baru, lo lihat kan gue bukan orang kuper seperti yang selalu lo bilang. Dan gue pastiin nggak ada satupun dari mereka yang berani ngerjain gue kayak lo,”
Tangannya menyentuh layar dan gambar bergeser secara cepat, berganti-ganti lalu berhenti pada gambar Zizi dengan seorang gadis seumuran dirinya,”Ran, tadi aku ketemu banyak temen cewek yang seru-seru. Kira-kira ada nggak ya yang bisa bikin aku lengket seperti kamu, yang bisa ngertiin aku banget dan nggak pernah bisa kehilangan sahabat kayak kamu,” Gumamnya pelan.
Gambar bergeser lagi,tampak disana foto seorang pria muda sekitar umur dua puluh tahun yang menggunakan baju olahraga putih dengan bola basket di tangan kanannya. Pria tersebut tersenyum manis, matanya menatap focus ke arah kamera,”Kak Karang, apa kabar? Hal pertama yang ingin aku ucapkan saat kita ketemu lagi masih sama, dunia nggak akan berakhir meskipun kakak nggak bisa berjalan apalagi menggerakkan tangan untuk hal-hal berat. Setidaknya aku nggak akan berubah selama aku masih ada di dekat kakak. Hari ini aku ketemu banyak orang-orang baru, terutama cowok. Karna kamu udah lepasin aku, boleh nggak aku cari pacar lagi? Tapi aku takut salah pilih. Aku takut dia nggak bisa ngejaga aku seperti kak karang,”Ujar Zizi setengah berbisik. Dia lalu terdiam cukup lama, sangat lama.
*****
 (Ruby Adawiyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...