Minggu, 10 Mei 2015

Back to Rain Part 1



SATU

Keadaan ini memaksaku merangkak pada perubahan....

Azira Maharani menatap kosong pada jalanan kota Bondowoso yang siang itu tampak lenggang. Tak banyak kendaraan yang menghambat perjalanannya karna hujan sudah mengguyur kota ini sejak pagi tadi. Baginya cukup bagus jika keadaannya begini, pikirannya sudah sesak dengan campuran emosi yang mengacak-ngacak perasaannya, kini ia tidak mau menjejali dirinya dengan udara panas serta padatnya jalanan seperti suasana di Jakarta. Hanya saja, semuanya memang tak akan pernah sama meski hujan mencoba membawanya pada mekanisme kenangan yang kini terasa menyakitkan. Ada beberapa bagian yang kosong yang sampai kapanpun memang tak akan kembali lagi, dan hal itu menuangkan sekat di hati Zizi karna bagian yang kosong tersebut terlalu berarti sampai ia tak tau bagaimana cara menggantinya.
Zizi menguap, matanya terus menerawang menembus jendela mobil sembari melipat kedua tangannya ke depan dada. Cukup membosankan berada di dalam mobil tanpa teman mengobrol, perjalanannya terlalu jauh baginya untuk diam tak melakukan apa-apa sementara pikirannya terus mengulang-ngulang banyak kejadian. Dia tak pernah merasa sekosong ini, biasanya di sampingnya selalu ada bang Reza yang melulu menjailinya, atau Rani, sahabatnya sedari kecil yang tak pernah absen berbagi cerita dengannya, jika tidak ia memiliki kak Karang, yang menjadi pendukung sekaligus orang yang disayanginya. Mengingat mereka, ingin rasanya Zizi tersenyum dan menangis di saat bersamaan. Terlalu banyak kenangan dan luka yang mengisi jalan di antara dirinya serta ketiga orang tersebut.
“Ini masih lama nggak Pak Min?” Tanya Zizi pada sopir pribadi keluarganya. Ia sungguh ingin segera menghentikan dimensi pikirannya yang mulai menuju alur yang paling menyesakkan.
“Kira-kira satu jam lagi lah non,” Jawab Pak Min dengan terus mengarahkan pandangannya ke arah jalan.
“Kok lama banget sih Pak Min? Emang rumahnya dimana? Bukannya ini udah Bondowoso?”
“Waah.., ini sih Bondowoso di bagian desa  non, kalo alamat Bi Siti yang non Zizi maksud di bagian kabupatennya, bisa dibilang di bagian kota lah Non,” Ucap Pak Min menggambarkan.      
Jangankan pak Min, Zizi sendiri masih kurang yakin dengan keputusannya untuk meninggalkan Jakarta setidaknya sampai ia lulus SMA, lalu hidup mandiri dan sederhana di sebuah Kabupaten di Jawa Timur yang letaknya sedikit terpencil dan kurang terkenal. Setidaknya itu lah yang ada di pikiran Zizi. Saat ia mengatakan akan pindah, teman-temannya malah tidak yakin apakah kabupaten Bondowoso ada di peta Jawa Timur.Awalnya ia tidak mengerti mengapa cara ini yang dipilihnya agar hidupnya menjadi lebih baik. Tapi mengingat betapa banyak ia telah kehilangan, Zizi justru semakin yakin dan tidak tanggung-tanggung  mengambil situasi. Tadinya kedua orang tuanya memang tidak setuju, mereka telah kehilangan Reza kemudian harus merelakan Zizi pindah walaupun setiap liburan Zizi berjanji untuk pulang. Namun begitu Zizi menjelaskan apa yang tersirat dalam pikirannya ketika memilih pindah, mereka akhirnya setuju, setidaknya disana masih ada Rizal, si Bungsu yang saat ini masih duduk di kelas satu SMP.
Hanya satu tahun, Zizi terus menekankan dalam hati. Ia akan belajar hidup mandiri tanpa terus bergantung pada orang tuanya yang kaya raya,melupakan kesakitan karna ditinggalkan oleh tiga orang yang begitu disayanginya, dan mencari jati dirinya selama ini.Zizi tau ia tidak mungkin benar-benar lepas dari orang tuanya terutama dalam hal keuangan, tapi ia bisa melakukan banyak hal yang belum pernah dilakukannya ketika ia berada dalam kemewahan, dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Hujan masih tak kunjung reda bahkan semakin deras selama beberapa detik lalu kembali normal. Di berbagai tempat tergenang air yang cukup luas sehingga menyulitkan orang-orang yang hendak melewati tempat tersebut. Sejumlah halte didesaki oleh masyarakat yang berniat menaiki bus atau hanya untuk berteduh, menciptakan pemandangan yang bukan lagi tabu bagi Zizi. Ia sering melihat rutinitas ini ketika hujan dan berada di dalam mobil, hanya saja suasana hatinya memang tak pernah lagi sama.
*****
Rumah sederhana yang kini tengah ada di hadapan Zizi memang tepat seperti yang ada di pikirannya. Tidak terlalu luas dan masih cukup bagus jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain di daerah ini. Memang ada beberapa model yang sama tetapi setidaknya rumahnya kini lebih terawat setelah minggu lalu direnovasi kembali karna Zizi mulai akan tinggal di dalamnya. Rumah bi Siti tepat ada di sebelah rumah Zizi, tidak lebih bagus, namun sedikit lebih luas. Sebenarnya rumah ini milik orang tua Zizi dahulu sebelum mereka pindah ke Jakarta dan memulai usaha disana sehingga bisnisnya sukses seperti sekarang ini. Waktu itu setahun sebelum Zizi lahir kedua orang tuanya baru merintis usahanya. Dan Bi Siti lah yang merawat rumah ini sejak ditinggal pemiliknya. Beberapa tahun kemudian setelah bisnis orang tua Zizi berkembang pesat, mama memberikan rumah ini kepada Bi Siti untuk digunakan sebagai tempat kontrakan lantaran suami Bi Siti yang sakit-sakitan lalu tiga tahun kemudian meninggal dunia. Baru lima bulan yang lalu rumah ini kembali kosong karena orang yang mengontraknya harus pindah, nyaris bersamaan dengan dimulainya satu persatu orang yang Zizi sayangi meninggal dunia. Entah kebetulan atau tidak, Zizi lantas berpikiran untuk hidup mandiri dan ia pun kembali ke tempat ini. Dimana orang tuanya masih belum menjadi apa-apa seperti sekarang. Mungkin benar, dia harus memulai semuanya dari awal.
“Non Zizi, ini kunci mobilnya non,” Ujar Pak Min membuyarkan lamunan Zizi. Ketika Zizi menoleh langsung di dapatinya kunci mobil yang diberikan papanya sewaktu Zizi berulang tahun beberapa bulan yang lalu, pak Min yang mengulurkan kunci mobil tersebut.
“Lho? Kok dikasih ke saya Pak Min?”
“Ini kan mobilnya non, tuan bilang non Zizi harus bawa mobil, setidaknya buat jaga-jaga,”
“Pak Min, kalo saya ambil mobilnya terus Pak Min ke bandara naik apa?”
Pak Min tersenyum polos,wajah keriput di usianya yang senja itu selalu tampak ramah dalam kondisi apapun,”Tuan udah kasih saya ongkos naik kereta non ke Surabaya, habis itu saya bisa naik pesawat lagi di Juanda, gampang lah Non, saya kan harus cepet-cepet balik ke Jakarta,” Sahutnya.
“Kapan pak Min balik?”
“Nanti sore non, sehabis beresin barang-barangnya non Zizi,”
“Nak Zizi, itu kamarnya udah saya bersihkan, sini biar ibu bantu angkatin barang-barangnya,” Sela Bi Siti yang tengah berjalan ke arah Zizi. Sebelumnya, jangankan untuk berbicara akrab, Zizi saja belum pernah bertemu dengan Bi Siti. Dulu mama bilang memang beberapa kali dia dan tetangga lamanya itu bertemu, tapi itu dulu sewaktu Zizi masih SD, sekarang setelah beranjak dewasa ia sama sekali tidak mengingat tetangga lama keluarganya tersebut.
“Makasih Bi,” Sahut Zizi seraya tersenyum. Ia tidak tau harus memanggil apa kepada wanita yang sebaya dengan mamanya ini. Biasanya ia selalu memanggil dengan sebutan tante, tapi kepada Bi Siti, entahlah. Walau memang terkesan seolah Bi Siti ini asisten rumahnya, namun Zizi terlanjur nyaman memanggilnya seperti itu dan tampaknya Bi Siti juga tak terlalu memikirkannya.
“Kalo ada apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk panggil Bibi ya, ini rumah kamu dan selama disini anggap saja Bibi tante kamu. Dulu mama kamu juga banyak bantu Bibi, jadi jangan ngerasa nggak enak,” Ujar Bi Siti ketika mereka sudah selesai membantu Zizi mengangkat barang-barangnya ke dalam rumah.
Zizi mengangguk,”Makasih ya Bi udah bantuin Zizi,”
“Nanti setiap hari Bibi kesini untuk bersih-bersih, kamu kan harus sekolah dan nggak mungkin ngurusin urusan rumah tangga, jadi setiap mau pergi kamu bisa titipin kuncinya ke Bibi,”
“Nggak kok Bi,” Timpal Zizi, lantas memberikan satu kunci rumahnya pada Bi Siti, sementara kunci yang satunya lagi masih digenggamnya,”Ini kuncinya, Bibi juga harus pegang. Mama udah kasih rumah ini ke Bibi, jadi Bibi lebih punya hak daripada aku. Bibi bisa masuk kesini kapan aja, boleh kemana aja, tapi kamar aku biar aku yang bersihin sendiri. Di Jakarta aku selalu bersihin kamar aku sendiri, kenapa disini nggak. Mungkin untuk ruangan yang lain, aku minta tolong Bibi bantu aku,”
“Iya,” Bi Siti tersenyum,”Pasti Ariska bangga sama kamu, selain cantik, pintar, kamu juga bertanggung jawab meskipun kamu anak orang kaya raya. Ternyata nggak semua anak orang kaya itu manja, buktinya kamu, mandiri dan tegas,” Tuturnya salut.
“Aku masih belajar kok Bi, aku masih belajar untuk hidup mandiri,” Sahut Zizi setengah lirih. Ia seperti merasakan, bahwa keputusannya tinggal disini adalah pilihan terbaik yang pernah diambilnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKALAPAK CIPTAKAN INSPIRASI DAN PELUANG UNTUK GENERASI MILLENIAL #BUKAINSPIRASI

sumber : insight.la Siapa yang tidak tahu dengan Generasi Millenial ? Generasi ini makin hari makin banyak dibicaraan lantaran si...